Selasa, 17 Juni 2014

Wisata Budaya : Mahan Hangal Pubian





 Mahan Hangal Pubian


Rumah merupakan bagian tak terlepaskan dalam kehidupan masyrakat. Setiap suku memiliki keragaman dan kekhasan bentuk rumahnya masing-masing. Salah satu masyarakat yang memiliki bentyuk rumah yang khas yakni masyarakat Lampung di pekon Rantau Tijang Kecamatan Pugung, Tanggamus. Masyarakat di sini merupakan keturunan Lampung pubian yang memiliki ikatan kuat dengan masyrakat Lampung pubian di Lampung Tengah. Konon, dari sanalah puyang mereka hijrah dan kemudian menetap di sini.

Masyarakat Lampung pubian ini memiliki bentuk rumah tradisional yang khas. Masyarakat setempat menyebut rumah dengan sebut Mahan. Mengingat bentuknya yang tinggi maka masyarakat setempat menyebutnya Mahan Hangal yang berarti rumah tinggi. Rumah tradisional ini dihuni oleh 2 kepala keluarga. Sepintas bentuk rumah ini seperti rumah betang suku Dayak yang berbentuk memanjang. Arpis dan Suwanhar telah mentepa di rumah ini berpuluh-puluh tahun yang lalu. Namun, rumah ini dibangun oleh kakek mereka. Usianya hingga kini mencapai 120 tahun. Tidak ada angka pasti yang menyebutkan berdirinya rumah ini. Hanya tertera angka tahun keberangkatan haji kakek mereka yakni tahun 1920 dan 1930. Angka tahun itu tertera pada bagian penopang tiang penyangga rumah yang bercampur dengan tulisan aksara Lampung. 


 
 Mahan Hangal dengan kayu cendana yang masih kokoh

Mahan Hangal ini sangat kuat dan kokoh. Walaupun telah berusia satu abad lebih namun rumah ini masih berdiri kokoh dan kuat. Hanya pada beberapa bagian rumah yang sudah tampak rapuh. Namun, secara keseluruhan rumah ini masih sangat kuat. Mahan Hangal ini berbentuk rumah panggung. Tinggi tiang penopang rumah sekitar 2 meter lebih. Ada sekitar puluhan tiang penopang kayu. Konon, kayau yang digunakan untuk pembuatan rumah ini menggunakan kayu cempaka yang memang khusus untuk konstruksi bangunan rumah. Kayu Cempaka banyak ditemukan di hutan-hutan sekitar kala itu. Maka tak mengherankan jika hampir 90 persen bangunan rumah ini terbuat dari kayu. Mulai dari tiang pengangga rumah, lantai hingga langit-langit rumah. Furnitur pelengkap rumah puluhan tahun lalu itu pun masih bisa ditemukan di dalam Mahan Hangal ini.



 
 Ruang tamu tempat bercengkrama


Ada beberapa bagian yang digunakan untuk aktivitas sehari-hari dalam rumah ini. Pada bagian depan misalnya biasanya digunakan oleh para muli dan bebai untuk mengobrol dan berdiskusi setelah seharian beraktivitas. Mereka biasanya menggelar appai (tikar) di bagian depan rumah ini. Teras ini bentuknya sangat panjang dan lebar, jadi sangat cocok untuk acara-acara kumpul bersama keluarga besar. Tak jarang mereka juga duduk-duduk di tiang pembatas yang menyerupai pagar setengah tiang. 

Ada 2 tangga pada bagian depan yang menandakan bahwa rumah ini dihuni oleh 2 kepala keluarga. Mahan Hanggal ini memang sedikit berbeda dengan rumah tradisional Lampung pada umumnya yang hanya dihuni oleh satu kepala keluarga saja. Hanya ada ruang pembatas saja yang terletak di bagian tengah. Ornamen khas Lampung begitu kentara pada bagian depan rumah. Ada besi yang dibuat sesuai dengan ornamen Lampung yang digunakan untuk penyangga atap bagian teras rumah. Sementara pada bagian atap depan terdapat ukiran semacam tikhai yang begitu khas Lampung.



 
 Teras Mahan Hangal tempat berkumpul para muli khik bebai


Bagian ruang tamu juga bisa digunakan orangtua mengobrol dengan sanak saudara. Pada ruang tamu di Mahan Hangal ini banyak ditemukan ornamen-ornamen masa lalu seperti patung tanduk rusa, hiasan lampu-lampu tempo dulu, kopiah emas untuk upacara adat hingga pernak-pernik khas Lampung lainnya. Barang-barang itu tersimpan rapih di dalam lemari sebagian lagi mereka pajang di dinding ruang tamu.
Walaupun dihuni oleh  dua keluarga besar namun masing-masing rumah memiliki keunikan masing-masing. Pada bagian rumah milik Suwanhar ini misalnya, pada bagian dinding kamar tidur yang terbuat dari kayu terdapat tulisan arab. Saat Lampung post membacanya itu berisi syair-syair yang ditujukan kepada pencipta alam semesta yang biasa dilantunkan saat-saat acara adat digelar.


 
 Tulisan Bahasa Arab tampak di dalam kamar milik Suwanhar


Sementara pada bagian rumah milik Arpis gelar Suntan Pangikhan Darmawan ini masih memiliki banyak benda-benda berornamen Lampung. Kursi kayu dan juga meja batu marmer juga masih kokoh dan dipajang di bagian rumah tamu. Perkakas ini masih bisa digunakan sebagaimana mestinya. Selain itu ada tanduk rusa, kopiah emas dan benda-benda khas Lampung lainnya.
 
 
 Ruang tamu milik Arpis gelar Suntan Pangikhan Darmawan

Secara keseluruhan rumah ini memiliki tinggi sekitar 10 meter. Rumah ini memang tampak berbeda dengan rumah-rumah disekitarnya. Sekarang memang jarang sekali masyarakat yang membuat Mahan Hangal ini. Rata-rata mereka membuat rumah pada umumnya. Namun, di Rantau Tinjang masih bisa ditemui rumah-rumah tradisional Lampung yang memiliki karakteristik tersendiri. Rumah-rumah itu terletak di sepanjang jalan Rantau Tinjang menuju arah Kota Agung. 

Atap rumahnya sangat besar mengikuti bentuk Mahan Hangal ini. Pada bagian atapnya menggunakan genting. Secara keseluruhan bangunan Mahan Hangal ini sangat unik dan tampak mencolok dibandingkan rumah-rumah lainnya di sekitarnya. Selain tingginya rumah ini juga bentuknya yang sangat khas dengan hiasan ornamen Lampung. Mahan Hangal ini harus terus dijaga sebagai bentuk simbol Budaya Lampung Pubian.

0 komentar:

Posting Komentar

Pages