Selasa, 25 Februari 2014

Pringsewu, Kota Bambu Seribu



 Tugu Selamat Datang, Kota Pringsewu

Suasana siang hari itu di Kota Pringsewu begitu ramai. Cuaca cukup terik, angin sepoi-sepoi mulai bertiup di sepanjang jalan yang kulalui. Sebuah Tugu Bambu Kuning setengah lingkaran menyambutku saat hendak memasuki kawasan Kota Pringsewu. Dua tahun lalu sekitar tahun 2011, tugu ini berwarna hijau. Tapi, entah mengapa kini tugu itu diubah menjadi kuning. Inilah tugu selamat datang untuk setiap orang yang hendak memasuki kawasan ibukota Kabupaten Pringsewu. Pada bagian atas tugu ini ada sebuah siger. Siger yang merupakan mahkota khas Lampung sebagai simbol keagungan masyarakat Lampung. Warna kecoklatan begitu tampak jelas pada setiap ruas bambu. Tugu ini terletak di tengah persawahan, warga sekitar biasanya menyebutnya “bulok”. Hamparan sawah alam pedesaan begitu terasa di kawasan ini. Apalagi saat musim panen tiba. Melihat para petani yang hilir mudik memanen padinya yang begitu melimpah, menjadi pemandangan yang begitu mengasyikan.

 Kawasan ini akan ramai pada sore hari. Pada siang harinya banyak penjual belut yang berjajar di sepanjang jalan. Sementara pada sore hari, banyak sekali penjual jagung bakar yang memenuhi ruas jalan sepanjang tugu bambu hingga tugu gajah. 

Biasanya warga bersantai di sekitar kawasan ini. Menikmati indahnya sunset sembari menikmati jagung bakar bersama orang tercinta. Harga jagung bakarnya pun cukup murah. Cukup Rp.7000 per buah Anda sudah bisa menikmati jagung bakar aneka rasa. Sayang siang itu para penjual jagung bakar belum membuka lapaknya disini. 

Tak jauh dari kawasan ini ada juga Tugu Gajah. Tugu ini memperlihatkan seekor gajah yang sedang mengangkat barbel. Gajah merupakan maskot dari provinsi Lampung, sementara barbel merupakan simbol bahwa Pringsewu memiliki banyak atlet angkat besi dengan prestasi nasional hingga internasional.


 
Tugu Gajah

Kota Pringsewu merupakan ibukota Kabupaten Pringsewu. Kota ini merupakan salah satu kota yang cukup maju. Pasar Pringsewu menjadi roda penggerak perekonomian warga dari berbagai kecamatan di kabupaten yang baru terbentuk pada tahun 20009 ini.

 
 Pusat Kota Pringsewu - Lampung


Selain Tugu Gajah, Pringsewu juga memiliki Tugu Petani yang juga menjadi salah satu ikon dari kabupaten yang maju ini. Pringsewu juga menjadi pusat pendidikan, maka tak heran jika banyak siswa berprestasi dari kabupaten ini.


 Tugu Petani - Pringsewu


Tak jauh dari pasar Pringsewu kita akan menemui Masjid Taqwa Pringsewu. Masjid ini menjadi salah satu syiar dakwah dalam geliat pembangunan yang terus digalakkan oleh pemerintah. Jadi, untuk umat muslim yang sedang berkunjung ke pasar Pringsewu tak perlu khawatir untuk beribadah.


 Masjid Taqwa Pringsewu
 
Dalam bahasa Jawa, kata pring itu berarti bambu sedangkan kata sewu berarti seribu. Jadi kurang lebih artinya bambu seribu. Jadi, untuk Anda yang kebetulan sedang berada di Lampung tak ada salahnya jika berkunjung ke kota yang memiliki julukan sebagai Kota Bambu Seribu ini. 

Ambarawa, bentengnya bahasa Jawa Ngapak di Pringsewu

            Mendengar nama Ambarawa, mungkin Anda akan teringat dengan peristiwa perang lima hari di Ambarawa, Jawa Tengah ? Bisa jadi, kan ? Tapi, kali ini lain. Desa Ambarawa kecamatan Ambarawa Kabupaten Pringsewu tak ada sangkut pautnya sama sekali dengan Ambarawa yang ada di Jawa Tengah. Justru sebagian besar masyarakat Ambarawa disini berasal dari Kebumen, Cilacap, Purwokerto dan sekitarnya. Maka tak heran, jika hampir semua masyarakat Ambarawa menggunakan bahasa Jawa Ngapak. Selain itu, bahasa Jawa Ngapak juga digunakan oleh sebagian warga di Desa Ambarawa Timur dan Ambarawa Barat.

 
 Balai Desa Ambarawa - Prinngsewu, khas Joglo Jawa
          
             Konon dulunya di wilayah Ambarawa ini banyak rawanya. Dalam bahasa setempat amba berarti luas sedangkan rawa berarti daerah rawa. Mulanya wilayah Ambarawa merupakan hutan Marga Way Lima suku Lampung yang dipimpin oleh seorang  pesirah ( kepala desa dalam bahasa Lampung ) yang bernama Syahfuhanda. Areal tanah hutan Marga Way Lima tersebut atas izin pesirah mulai dibuka pada tahun 1933 oleh warga dari 10 kepala keluarga dibawah pimpinan Hi. Achmad Ghardi. 

            Pada tahun 1933 oleh Pesirah Marga Way Lima, areal hutan tanah marga yang telah dibuka itu diresmikan menjadi desa Ambarawa dan Bapak Hi. Achmad Ghardi ditetapkan sebagai kepla desa yang pertma hingga tahun 1950. Pad awaktu itu jumlah penduduk desa Ambarawa sebanyak 150 KK (350 jiwa). Walaupun awalnya inilah adalah tanah marga Way Lima yang merupakan suku asli Lampung, namun karena dihuni oleh mayoritas suku Jawa akhirnya nama desa menggunakan nama dari bahasa Jawa. Pada waktu itu, setiap KK diberi jatah tanah seluas 3 Ha untuk dikelola.

            Masyarakat Ambarawa dalam sehari-hari menggunakan bahasa Jawa Ngapak ( Dialek A ). Bahasa Jawa Ngapak termasuk dalam bahasa Jawa Ngoko. Sementara masyarakat di desa lain di kecamatan Ambarawa biasanya menggunakan bahasa Jawa Bandek ( dialek O ).

 
 Sisi lain Desa Ambarawa , pusatnya Air Krawang

            Tak banyak memang tempat wisata di desa ini, tapi Anda patut mengunjungi Kawasan Air Krawang. Air Krawang sangat terkenal di Lampung karena kejernihannya yang begitu alami. Dulunya hanya ada satu sumber Air Krawang, tapi setelah dilakukan penelitian banyak warga yang membuka bisnis air krawang. Entah berapa ribu kubik air yang disedot setiap harinya. Warga dari berbagai desa berbondong-bondong mengambil air dari Krawang yang kini masuk dalam wilayah Desa Ambarawa Timur. Selamat mengunjungi bentengnya bahasa Ngapak di Pringsewu, Desa Ambarawa.  

Pardasuka, pekon ne ulun Lappung di Pringsewu

            Mendengar kata Pringsewu, mungkin tak pernah terpikirkan dalam benak Anda tentang keberadaan suku Lampung disini. Jika anggapan Anda demikian sepertinya perlu diluruskan. Setidaknya ada dua titik lokasi yang banyak dihuni oleh suku Lampung. Pekon (sebutan desa dalam bahasa Lampung Saibatin) yang pertama yakni Margakaya. Desa Margakaya merupakan salah satu desa yang mayoritas dihuni suku Lampung yang masih mempertahankan adat, budaya dan bahasa Lampung dalam kesehariannya. Arsitektur rumah adat Lampung juga bisa Anda jumpai disini. 


 Rumah Adat Lampung Pesisir - Tanjung Rusia, Pardasuka

 
 Jalan Menuju Pardasuka  ( 2014 )

            Selain di Margakaya, suku Lampung juga mayoritas tinggal di kecamatan Pardasuka yang tersebar di beberapa pekon. Seperti halnya suku Lampung di Margakaya, masyarakat Lampung disini juga masih mempertahankan adat, budaya dan bahasa dalam kesehariannya. Suku Lampung di Pringsewu merupakan masyarakat Lampung Saibatin. Pada umumnya masyarakat Lampung Saibatin tinggal di daerah pesisir. Biasanya mereka membangun rumah di dekat pantai maupun sungai. Bahasa mereka juga hampir sama dengan suku Lampung yang tinggal di Liwa, Krui, Kota Agung, Talang Padang, Gunung Alip dan Gisting.
Payu mit Bumi Jejama Secancanan, Pringsewu. Kota dengan sejuta pesona bambu.  



10 komentar:

  1. Asekk jalan jalan..smga bsa ke sana..

    BalasHapus
  2. Blognya Mas Tri Keren... Semoga ke depan lebih oke

    BalasHapus
  3. bagus try...
    kita mlh blm prnah keliling pringsewu nich...

    BalasHapus
  4. pada keterangan rumah adat lampung pesisir itu bukan ditanjung rusia melainkan di bandar Agung Pekon pardasuka selatan

    BalasHapus
  5. semoga kedepanya Lampung bisa jadi propinsi yang maju,amin

    BalasHapus
  6. jadi kangen pringsewu dan pingin pulang kampung :(

    BalasHapus
  7. pringsewu,suatu saat pasti akan rindu dirimu,
    puas puasin dulu
    maju berjuang pringsewu

    BalasHapus
  8. Tambahin mas, PEMDA Pringsewu, TALANG, GUA MARIA. Trus Kalo udah jadi tambahin Bendungan way sekampung Pagelaran.

    #Cah_Sukoharjo
    #faqih911.blogspot.com

    BalasHapus

Pages