Minggu, 23 Februari 2014

Jalan-jalan di Gudang Agen - Teluk Betung mengenal Tradisi Mosok ala Keturunan Lampung Menggala



                    Pada Jum’at, 31 Januari 2013 yang lalu telah dilangsungkan prosesi akad nikah antara Ayu Mustika Sari dengan Gaung Perwira Yustika. Nuansa pernikahan pun kental dengan adat Lampung. Selepas akad nikah tradisi mosok (suap-suapan) pun dilakukan. Konon, keluarga besar Ayu yang kini tinggal di Gudang Agen dulunya berasal dari Tiyuh Teladas, Menggala, Tulang Bawang. Tiyuh Teladas termasuk dalam Mego Pak Tulang Bawang. Dalam keseharian mereka menggunakan Bahasa Lampung dialek O.


Tradisi mosok dipimpin oleh tetua adat wanita dari Mego Pak Tulang Bawang tiyuh Teladas, yakni Hajah Latifah Hanum gelar Settan Sembah Mergo. Acara diawali dengan pembacaan Basmallah dan pujian untuk Nabi Muhammad. Selanjutnya diatas meja kecil ada Pagakh  ( tempat makanan suku Lampung yang terbuat dari kuningan ). Diatas pagakh telah tersedia hidangan nasi kuning dengan ayam dan aneka sayuran yang telah dimasak. Dua buah gelas yang berisi air putih dan air kopi pahit pun telah tersedia. Air kopi pahit bermakna sebagai seorang suami/istri jangan terlalu cemburuan. Sedangkan air putih memiliki artian bahwa sebagai seorang istri/suami harus senantiasa berpikiran jernih dan menjaga kesucian diri.

 
 Hajjah Latifah Hanum memimpin Prosesi Mosok


Prosesi mosok (suapan) diawali dari ibu mempelai wanita, dilanjutkan ibu mempelai pria serta tetua wanita dari keluarga kedua belah pihak. Satu per satu mereka memberikan sesuap hidangan yang terletak diatas pagakh. Mereka menyuapi kedua pengantin dengan penuh suka ria. 


 
 Ibu mempelai wanita menyuapi kedua mempelai secara bergantian


Saat sedang menyuapi kedua mempelai, maka wanita lainnya secara kompak bilang “sorak e”. Sorak e berarti sebagai pemberi semangat dan bersuka ria. Acara ini begitu heboh dan meriah. Acara mosok ini hanya dilakukan  oleh kaum wanita saja. Sementara kaum pria biasanya mengan jejamo (makan bersama).


 
 Para wanita Lampung Menggala mengikuti tradisi Mosok


Tradisi mosok memiliki makna yang penting bagi masyarakat Lampung Menggala. Tradisi ini bermakna sebegai penyerahan dan bentuk bakti mempelai wanita kepada mempelai pria. Tradisi ini telah berlangsung dari generasi ke generasi walaupun mereka telah hijrah dari Tiyuh Teladas.

Selepas mosok, mempelai wanita akan memukul-mukul lembut kunci rumah diatas jidadnya. Sembari dihitung dalam bahasa Lampung, Sai, khua, tigo, pak, limo, enom, pitu dan secara serentak para tamu undangan khususnya kaum wanita akan meneriakkan “Sorak e”. Tak ketinggalan prosesi berikutnya yakni bejuluk buadek (bejuluk buadok). Bejuluk Buadek merupakan prosesi pemberian gelar. Hal ini sangat penting dalam tradisi masyarakat Lampung. Mempelai wanita diberi gelar (adok/adek) sejati, sedangkan mempelai pria diberi gelar pangeran dermawan. Nama gelar tersebut akan digunakan dalam kehidupan sehari-hari dalam kehidupan berrumah tangga suku Lampung.

 
 Usai tradisi Mosok kedua pengantin mengikuti prosesi Bejuluk Buadok


Kedua pengantin mulai menaburkan kacang dan permen ke hadapan tamu undangan. Prosesi ini pun mengakhiri acara mosok pada malam ini. Inilah salah satu tradisi suku Lampung yang perlu terus dikembangkan.

 
 Saya pun sempat berfoto di depan Puadek ( Singgasa mempelai pengantin dalam adat Lampung )

0 komentar:

Posting Komentar

Pages