Kamis, 19 Maret 2015

Aura Air Terjun Way Kalam yang Tak Pernah Tenggelam
















Perjalanan menuju Air Terjun Way Kalam cukup berliku. Selepas melewati perkampungan yang didominasi masyarakat Jawa Serang (Jaseng) kita harus melanjutkan perjalanan melewati jalan setapak. Sepanjang perjalanan tanaman kakao, durian, pohon pisang serta aneka pepohonan akan menyambut kita. Perjalanan yang melelahkan akan terbayar saat kita melihat Air Terjun Way Kalam yang sangat jernih bak air susu dari surga.

Air Terjun Way Kalam terletak di Desa Way Kalam Kecamatan Penengahan Kabupaten Lampung Selatan. Air terjun ini mulai ramai dikunjungi sebagai objek wisata sejak tahun 90-an. Walaupun didominasi masyarakat Jaseng, namun, nama air terjun ini menggunakan Bahasa Lampung. Way berarti air atau sungai. Sedangkan, Kalam itu berarti batu putih yang keluar dari cadas. Penamaan ini sebagai penghormatan masyarakat setempat kepada masyarakat lokal. Jika dilihat air terjun ini memang seolah keluar dari batu cadas yang begitu besar. 

Menurut Ali Amin Said, guide kami mengatakan bahwa air terjun ini ramai dikunjungi oleh wisatawan saat akhir pekan tiba. Hari-hari biasa hanya beberapa pengunjung yang datang ke sini. Saat akhir pekan tiba pengunjung yang menikmati objek wisata ini bisa mencapai 60 hingga seratusan orang. Menurut Ketua Karang Taruna dan Pemuda Way Kalam itu air terjun Way Kalam juga banyak dikunjungi turis mancanegara. Turis asal Swedia, Inggris, Australia dan lainnya biasa berkunjung ke sini.  “Wisatawan biasanya berkunjung ke sini, saat akhir pekan tiba”, kata dia. 

Ali Amin Said mengatakan jalanan menuju air terjun ini telah dipaving blok sejak 2011 oleh Menteri Kehutanan kala itu. Jalanan itu hingga kini masih terjaga. Para pengunjung bisa menggunakan kendaraan roda dua atau roda empat. Namun, hanya bisa sampai kawasan parkiran.  Selepas dari parkiran kita harus berjalan sekitar 20 menit dengan menuruni lereng. Kayu-kayu yang dibuat semacam tangga sangat membantu pengunjung menjangkau Air Terjun Way Kalam.

Lokasi air terjun ini berada di Kawasan Hutan Lindung Register 3 Gunung Rajabasa yang dikelilingi oleh tebing yang cukup curam. Tebing-tebing ini semakin mempercantik pemandangan. Air terjun Way Kalam bersumber dari Way Penengahan. Sungai besar ini mampu mengairi 20 desa di sekitar Gunung Rajabasa. Masyarakat setempat memanfaatkan air bersih itu untuk keperluan sehari-hari dan untuk dikonsumsi juga. Ibu Lilis, warga setempat yang sudah lama bermukim, mengatakan Way Penengahan mampu mengairi desa-desa di sekitarnya karena debit airnya yang banyak. Air terjun Way Kalam sendiri menjadi bagian yang dialiri sungai besar ini. “Airnya bersih dan jernih, makanya banyak warga yang memanfaatkannya untuk kehidupan sehari-hari”, kata dia.

Air terjun yang memiliki ketinggian sekitar 40 meter ini tampak semakin eksotis dengan pepohonan di sekitarnya yang masih rimbun. Cipratan air terjun yang jatuh menimpa bebatuan di bawahnya membuat tubuh kita yang berbalut baju menjadi basah. Padahal jarak antara titik kita berdiri dengan air terjun mencapai 500 meter. Kita bisa berfoto di dekat air terjun maupun berenang di bawah lereng yang curam. 

Ali Amin Said menambahkan setiap pengunjung yang datang ke sini dikenai tiket masuk sebesar Rp 10ribu / motor. Tiket tersebut sudah termasuk dua orang yang mengendarainya. Namun, jika kita datang menggunakan mobil atau angkutan lainnya kita dikenai tiket masuk Rp 3000 per orang. “Biaya tiket masuk digunakan untuk biaya operasional dan gaji pengelola”, kata dia.

Lereng yang curam di Air Terjun Way Kalam dulu banyak dihuni kelelawar. Namun, seiring banyaknya wisatawan yang berkunjung ke sini, kelelawar itu berpindah mencari habibat baru. Bebatuan juga banyak memenuhi aliran sungai di bawah air terjun. Batu dengan berbagai ukuran itu memang menjadi pemandangan yang semakin asyik. Pengunjung juga bisa berfoto dari atas batu yang banyak bertebaran di sekitar area air terjun. Namun, di sini tidak ada ruang ganti atau bilas. Sebaiknya Anda membawa sarung atau kain penutup lainnya untuk melindungi Anda saat berganti pakaian.

Air Terjun Way Kalam sangat rekomendid untuk Anda kunjungi. Selain air terjunnya yang sangat menawan, udara yang begitu segar juga menjadi sajian dari alam yang tak terlewatkan. Maka jangan ragu-ragu, ayo ambil ranselmu dan menjelajahlah, Air Terjun Way Kalam menunggumu.

Minggu, 15 Maret 2015

5 Kawasan yang wajib Anda kunjungi di Tambling Wildlife Nature Conservation




Alhamdulillah, puji syukur atas nikmat Alloh SWT bisa mengunjungi Tambling Wildlife Nature Conservation (TWNC). Salah satu tempat yang tidak sembarang orang bisa mengunjunginya. Saya berkesempatan datang dan menyaksikan secara langsung berbagai keeksotisan di TWNC berkat undangan dari tempat saya bekerja. Saya datang untuk meliput acara Pelepasan Harimau Sumatera, Panti dan Petir. Namun, jika Anda ingin berkunjung ke sini, melalui prosedur yang lumayan rumit. Anda harus meminta izin terlebih dahulu di Yayasan Artha Graha Peduli. Saya juga sempat mengunjungi beberapa tempat eksotis yang ada di TWNC. Berikut ini 5 kawasan yang wajib Anda kunjungi saat berada di TWNC. 

1. Rescue Center
 Ada beberapa view yang menarik untuk Anda kunjungi saat menjelajah hutan rimba TWNC. Salah satunya yakni Rescue Center. Kawasan seluas 1 Ha itu digunakan sebagai tempat penangkaran harimau. Ada 5 harimau yang kini sedang direhabilitasi di sini. Harimau-harimau ini merupakan harimau translokasi dari Aceh, Jambi dan Bengkulu. Setiap harinya Kucing Besar ini dilatih untuk menjadi liar layaknya di alam bebas. Menurut Wawan, keeper Harimau Sumatera ini mengatakan bahwa harimau di sini dilatih dengan cara memberi makanan dengan binatang hidup layaknya di alam liar. Harimau yang normal ia akan menggigit bagian leher mangsanya. Namun, harimau yang masih terlalu jinak biasanya akan “mempermainkan” mangsanya. “Kami berusaha membuat harimau ini bisa survive di alam liar,” kata dia.

2.     Mercusuar Tambling
 Tempat lainnya yang layak Anda kunjungi yakni Mercusuar peninggalan Belanda. Mercusuar setinggi 17 meter ini terletak di kawasan Hutan TWNC yang masih dalam lingkaran Ring 1. Lingkaran Ring 1 merupakan kawasan dimana tersedia beberapa cottage. Mercusuar buatan Belanda yang dibangun pada tahun 1879 oleh Raja Willem III ini masih berdiri kokoh. Mercusuar ini hanya sedikit mengalami kemiringan saat terjadi letusan Gunung Krakatau pada tahun 1883. Menurut Hana Lilis, guide kami, mengatakan bahwa terjadi kemiringan sekitar 17 derajat. Namun, tidak mempengaruhi kekokohan mercusuar ini. Saya sempat mengunjungi hingga lantai 17 mercusuar yang terletak di TWNC ini. Jarak antar  lantai dengan lantai lainnya dihubungkan dengan anak tangga yang berjumlah antara 13-15 anak tangga. Setiap lantai diberi 2-4 jendela yang dulu digunakan untuk pemantauan. Saat berada di puncak mercusuar semua pemandangan khas Tambling akan terlihat. Bibir pantai yang begitu bersih dengan deburan ombak yang begitu mempesona. Hijau hutan Tambling juga bisa terlihat dengan jelas dari puncak mercusuar ini. “ Mercusuar ini memiliki peranan yang sangat vital pada masanya,” kata dia. 


3.      Danau Sleman
 Tempat lainnya yang bisa Anda kunjungi yaitu Danau Sleman. Anda jangan membayangkan sedang berada di Jogjakarta, ini di Lampung loh. Menurut guide kami, Rini, mengatakan bahwa konon dulunya banyak penduduk yang berasal dari Sleman yang tinggal di sekitar kawasan TWNC ini. Hingga nama danau ini disamakan dengan daerah mereka berasal. Danau ini berbentuk seperti sungai yang didominasi dengan tanaman nipah. Biasanya kerbau liar dan aneka jenis burung berkeliaran di sekitar danau ini. Paling asyik adalah saat Anda menyusuri danau ini dengan boat. “Danau ini merupakan salah satu dari tiga danau yang ada di TWNC,” kata dia.

4.      Pantai Belimbing
 Pantai merupakan bagian tak terpisahkan dari TWNC. Pantai itu terbentang memanjang dengan garis pantai yang sangat panjang dan berbatasan langsung dengan Samudera Hindia. Namun, salah satu pantai yang harus Anda kunjungi saat berada di TWNC yaitu Pantai Belimbing. Pantai ini memiliki keeksotisan yang luar biasa. Pantai pasir yang begitu lembut berpadu dengan warna biru laut yang memukau. Anda bisa berfoto atau sekedar berjalan menyusuri pantai ini. Namun, Jika Anda ingin berenang, Anda harus berhati-hati karena ombaknya lumayan besar.

5.      Tungku Peninggalan Belanda
 Jejak Belanda tak hanya terlihat pada Mercusuar Tambling. Benda yang diduga bekas tungku peninggalan Belanda juga tampak masih berdiri kokoh di area Ring 1. Tungku itu terbuat dari semen yang dicampur karang. Bangunan itu tampak masih berbentuk tungku yang diduga digunakan untuk memasak.

Mengintip Jejak si Belang di Tambling Wildlife Nature Conservation



Mekar, salah satu Harimau Sumatera di Rescue Center TWNC sedang menyantap seekor babi


Tambling Wildlife Nature Conservation (TWNC) merupakan kawasan konservasi flora dan fauna yang masih masuk dalam Kawasan Hutan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan. Secara administratif TWNC terletak di Kecamatan Bengkunat Belimbing Kabupaten Pesisir Barat Provinsi Lampung. Hutan seluas 50.000 Ha itu menjadi saksi bisu betapa padatnya populasi harimau di kawasan yang terletak di bagian barat ujung selatan Pulau Sumatera itu. TWNC digadang-gadang sebagai kawasan terpadat habibat harimau se-Asia Tenggara. Diperkirakaan masih ada 200-an harimau liar yang menghuni kawasan yang telah dikelola sejak tahun 2007 itu. TWNC merupakan kawasan hutan konservasi harimau Sumatera yang dikelola Artha Graha Peduli.


Si Mekar lagi beraksi, Saya terkaget-kaget
 
Kucing besar setinggi 70 cm tampak menyusuri hutan dalam kegelapan. Sesekali lidahnya menjulur dan menjilati bagian tubuhnya yang dirasa kotor. Saat ada lubang yang dipenuhi lumpur, si belang tampak melipir mencari jalan yang bersih. Hewan yang memiliki karakter bersih itu terus berjalan menyusuri hutan di tengah kegelapan. Matanya tetap tajam dengan kuku-kuku tajam. Bulunya yang halus dengan paduan warna orange dan hitam menambah kesan garang. Saat seekor babi melintas di depannya, dengan sigap gigi taring menancap pada leher babi malang itu. “cittt….ciiiittttt…citttt….” suara babi yang tengah tercekik di keheningan malam membuat malam semakin mencekam. Setidaknya demikianlah perilaku Harimau Sumatera yang terekam kamera trap. Kamera yang di pasang di beberapa titik perlintasan Harimau Sumatera di kawasan Tambling Wildlife Nature Conservation menjadi saksi bahwa kucing besar ini masih eksis hingga kini. Bahkan, konon jumlahnya mencapai ratusan ekor di alam liar. 

Kawasan TWNC menjadi habibat Harimau Sumatera dengan persedian pangan yang cukup. Menurut salah satu guide kami, Maria, ia mengatakan bahwa Kawasan Hutan TWNC yang masih alami membuat Harimau betah hidup di sini. diperkirakan jumlah Si Belang mencapai ratusan ekor. Dusun Pengekahan Desa Way Haru Kecamatan Bengkunat Belimbing Kabupaten Pesisir Barat merupakan salah satu desa yang berbatasan langsung dengan kawasan TWNC. Namun, selama ini, Harimau tidak pernah menyerang warga. mereka hidup berdampingan di alamnya masing-masing. 


Pak Wawan sedang bermain-main bersama si Mekar

Maisng-masing Harimau memiliki batasan wilayahnya masing-masing. Batas wilayah ditandai dengan mencakar sebuah pohon. Biasanya pohon tersebut dicakar. Cakaran ini sebagai pertanda bahwa area ini milik salah satu harimau. Selain cakaran, Harimau juga akan menyemprotkan spermanya di batang pohon tersebut dan menempelkan bulu-bulunya. Masing-masing harimau juga mampu mengenali bau Harimau lainnya. 


Pak Marizal sedang memeragakan cara Harimau menandai batas wilayahnya

Harimau merupakan hewan yang cinta akan kebersihan. Saat menangkap mangsanya Harimau akan menerkam bagian lehernya. Saat mangsanya tak berdaya dan mati, barulah Harimau akan menjilati seluruh tubuh mangsanya. Darah-darah yang berceceran akan dibersihkan dengan acara dijilati. Jika, mangsanya berupa seekor ayam, maka ia akan membersihkan bulu-bulu ayam tersebut terlebih dahulu. 


Berfoto sejenak di depan pintu masuk TWNC



Selasa, 10 Maret 2015

Wellcome to The Kingdom of Butterfly, Bantimurung Bulusaraung







Kali ini saya mengunjungi Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, yang terkenal karena spesies kupu-kupunya yang beraneka ragam. Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung atau yang lebih dikenal TN Babul terletak di Kecamatan Bantimurung Kabupaten Maros Provinsi Sulawesi Selatan. Namun tak sedikit pula masyarakat yang hanya menyebut taman nasional ini dengan Taman Nasional Bantimurung saja. 


Taman nasional ini memiliki luas sekitar 43.750 hektar yang secara administratif masuk dalam Kabupaten Maros dan Pangkep. Jalur transportasi untuk menuju lokasi ini cukup terjangkau dan bisa diakses dengan motor maupun mobil. Jalanan yang terbentang sepanjang Makassar hingga Maros lebar dan mulus. Maka tak heran jika taman nasional ini menjadi salah satu objek wisata unggulan di Sulawesi Selatan. Waktu tempuh dari Makassar ke Taman Nasional Bantimurung sekitar 1-2 jam perjalanan. Selain itu banyak juga pete-pete (sebutan angkot bagi warga Makassar) yang siap mengantarkan Anda ke sini. 

Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung menyuguhkan bentangan alam yang begitu istimewa. Beberapa objek wisata alam diantaranya Air Terjun Bantimurung, Goa mimpi dan Goa Batu, Museum Kupu-kupu serta Bukit Karst yang tersebar di berbagai sisi. Memasuki Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung kita akan disambut dengan Patung Kupu-kupu dengan ukuran besar. Bukit-bukit karst dengan pepohonan hijau tampak mempercantik taman nasional ini. Patung kera dengan ukuran besar juga berada tak jauh dari gerbang masuk. Sementara itu, tak jauh dari tempat pembelian tiket masuk banyak para pedagang souvenir berupa kupu-kupu yang telah diawetkan. Pedagang lainnya pun tumpah ruah di halaman masuk tempat pembelian tiket ini. Maka Anda jangan heran jika banyak sekali pedagang yang menawarkan aneka jualan mereka kepada Anda. 

Air terjun Bantimurung memiliki ketinggian sekitar 15 meter. Air terjunnya sedikit berbeda dengan air terjun pada umumnya. Air mengalir pada gundukan batuan kapur yang telah mengeras selebar 20 meter. Biasanya para pengunjung mandi di bawah guyuran air terjun yang mengalir tidak terlalu deras ini. Airnya mengalir dengan pelan turun ke bawah pada gundukan batuan itu. airnya begitu segar, jernih dan bersih. Sampah-sampah tak ditemukan di sekitar air terjun ini. Para pengunjung biasanya betah berlama-lama di sini sembari mandi di bawah guyuran air terjun. Gemericik air yang jatuh pelan-pelan menimpa kepala memberikan sensasi yang berbeda. Biasanya air terjun ini juga digunakan untuk objek berfoto bagi para model. Nur Aini, pengunjung asal Lampung begitu terpesona melihat keindahan air terjun ini. Mulutnya masih saja terbuka sembari mengatakan “wowww, amazing”, matanya berbinar dan kakiknya segera melangkah menuju air terjun. “Air terjunnya, keren banget, gue bisa pose kayak model yang lagi difoto, hehehe,” kata dia. 

Puas menikmati keindahan air terjun saya kembali menyusuri objek wisata di taman nasional yang dijuluki “The Kingdom of Butterfly” oleh Alfred Russel Wallace (1857) ini. Museum kupu-kupu yang memiliki banyak koleksi aneka spesies ini terletak tak jauh dari air terjun. Kupu-kupu yang diawetkan di sini, merupakan kupu-kupu yang telah mati. Para pengunjung juga dimudahkan dengan keterangan jenis kupu-kupu yang terletak di bawah kupu-kupu yang diawetkan. Selain itu, para pengunjung juga bisa melihat penangkaran kupu-kupu yang berada di samping museum. Para pengunjung akan dipandu oleh guide yang memang mengurusi kupu-kupu di sini. Handriyanto, pengunjung asal Bengkulu mengaku takjub dengan banyak spesies kupu-kupu di sini. “Banyak jenis kupu-kupu di sini, kata guide kita ada sekitar 107 jenis kupu-kupu di sini,” kata dia. 



Lokasi berikutnya yang saya kunjungi yaitu Goa Batu Bantimurung. Kita harus menyusuri anak tangga setinggi 10 meter mulai dari air terjun untuk sampai di goa ini. Jarak dari air terjun sampai di goa ini sekitar 800 meter. Pemadangan alam khas pegunungan karst dengan batuan dan pepohonan hijau tampak memenuhi sisi jalan setapak yang kami lalui. Penduduk sekitar banyak yang menjajakan (menyewakan) senter untuk penerangan sebelum masuk ke dalam goa. Harga jasa sewa senter ini Rp 10ribu tanpa batas waktu. Stalaktit dan stalagmit tampak menghiasi bagian dalam goa. Anda harus berhati-hati saat menyusuri bagian dalam goa ini, karena jalanan di dalam termasuk licin. Air dari stalaktit terus menetes dari bagian atap goa dan membuat jalanan di bagian dalam semakin licin. Goa yang juga dikenal dengan Goa Jodoh ini juga ramai dikunjungi para wisatawan yang berasal dari berbagai daerah. Maka tak Ada alasan buat Anda untuk tak datang ke sini. “Wellcome to The Kingdom of  Butterfly, Bantimurung Bulusaraung”. 

Pages