 |
Jayik Sakhdang (Jai) |

Masyarakat Lampung memiliki alat dan perkakas tersendiri
yang digunakan dalam berbagai hal dan kesempatan. Salah satu aktivitas
yang banyak dilakukan oleh masyarakat suku Lampung di daerah perdesaan
adalah berkebun dan bercocok tanam. Hal ini mempengaruhi kebudayaan
masyarakat Lampung itu sendiri dalam menggunakan perkakas yang khas.
Salah satu perkakas yang masih digunakan oleh wanita suku Lampung saat
hendak menuju ke kebun atau sawah Jayik Sakhdang. Masyarakat Lampung di
Pekon Sukaraja Kecamatan Gunung Alip Kabupaten Tanggamus masih
menggunakan benda yang satu ini saat ke kebun atau sawah.

Jayik
Sakhdang dalam Bahasa Lampung bisa diartikan sebagai bakul yang
diselempangkan (dikaitkan) di pundak. Jayik Sakhdang ini terbuat dari
bilah bambu yang kemudian dianyam hingga membentuk segiempat dengan
bagian atas terbuka lebar. Sebagai pelengkapnya, Jayik Sakhdang ini
kemudian dipasangkan tali yang terbuat dari rotan yang memanjang yang
fungsinya untuk dikaitkan di pundak. Jayik Sakhdang pada umumnya
digunakan oleh wanita suku Lampung saat berkebun atau berladang karena
memiliki banyak kegunaan. Salah satu fungsinya yakni untuk membawa bekal
berupa nasi maupun air minum serta peralatan berkebun seperti sabit,
ani-ani, dan lainnya.

Jayik Sakhdang masih banyak ditemukan di
daerah perdesaan yang dihuni mayoritas Suku Lampung. Harga jual
perlengkapan yang satu ini di pasar tradisional mencapai hingga Rp
15ribu – Rp 20ribu per buah. Selain di pasar, kita juga bisa memesan
dengan penduduk sekitar yang biasa membuat kerajinan. Saat wanita suku
Lampung pulang berkebun biasanya Jayik Sakhdang ini digunakan untuk
membawa sayuran, buah-buahan maupun hasil kebun lainnya yang sifatnya
untuk makanan harian.
Para pengrajin di Pekon Sukaraja masih
aktif membuat Jayik Sakhdang . selain digunakan oleh masyarakat sekitar
juga biasanya dijual di pasar-pasar. Salah satu hal yang membuat Jayik
Sakhdang masih tetap bertahan yakni karena ketersedian bahan baku yang
melimpah. Tak jauh dari pemukiman warga di sini banyak ditemukan pohon
bambu yang tumbuh subur. Selain itu, para pengrajin disini juga masih
banyak yang membuatnya. Tak hanya sampai disitu, masyarakat sekitar
Tanggamus juga masih banyak yang menggunakan benda yang satu ini untuk
kegiatan berkebun maupun berladang. Itulah beberapa alasan mengapa benda
yang satu ini masih bisa tetap bertahan hingga saat ini.

Jayik
Sakhdang telah digunakan oleh masyarakat Lampung secara turun menurun.
Jika kita mengunjungi Pekon Sukaraja maka hampir dipastikan semua wanita
yang berkebun atau berladang membawa Jayik Sakhdang. Tak jauh dari
Objek Wisata Way Beghak banyak sekali kebun kemon (sejenis lalapan) dan
selada air yang ditanam warga di sana. Biasanya wanita-wanita itu
mengambil sayuran yang kemudian diletakkan di dalam Jayik Sakhdang.
Benda yang satu ini menjadi bagian yang tak bisa dilepaskan dalam
masyarakat Lampung yang beradatkan Saibatin itu. Walaupun ditengah zaman
yang serba modern ini namun Jayik Sakhdang mampu bertahan melawan
zaman.
0 komentar:
Posting Komentar