Minggu, 01 Juni 2014

Melincah ke Bendungan Batu Tegi


Landmark - Bendungan Batu Tegi, Tanggamus

Sekelompok remaja tampak berjalan-jalan mengelilingi area sebuah bendungan yang amat besar. Sesekali mereka saling bercanda dan berfoto. Angin yang begitu menyejukkan membuat mereka betah berlama-lama disana. Apalagi pemandangan hijau di sekeliling mereka yang cukup menyejukkan mata membuat mereka tambah kerasan. Air tawar tampak seperti danau yang mengambang diantara deretan perbukitan. Ada sebuah jembatan raksasa yang seolah menjadi pembatas diantara kedua sisi perbukitan. Itulah pemandangan yang tampak dari Bendungan Batu Tegi. Bendungan yang memiliki keunikan tersendiri diantara bendungan-bendungan lainnya di Lampung.

 
 Sepanjang 1 Kilometer, Jalan menuju Batu Tegi

Menjelajahi wisata di Kabupaten Tanggamus seolah tak ada habisnya. Ada saja cerita-cerita menarik nan unik yang tertoreh disana. Mulai bentang alam yang mempesona hingga budaya Lampung yang masih lestari hingga kini. Salah satu objek wisata yang harus Anda kunjungi saat tiba di kabupaten yang menjadikan lumba-lumba sebagai ikonnya ini adalah Bendungan Batu Tegi. Dijamin Anda nggak bakal kecewa saat tiba di Bendungan yang sangat besar ini.

 
 Bendungan Batu Tegi dengan pemandangan di sekitar area


Jarak tempuh dari pusat Kota Bandar Lampung sekitar 2 jam. Jalan yang mulus dan pemandangan pedesaan menjadi pertimbangan Anda untuk berlibur ke sini. Tepat sebelum Pasar Talang Padang ada papan yang menunjukkan arah menuju Bendungan Batu Tegi yang kini masuk dalam wilayah Kecamatan Air Naningan. Jika Anda berlibur kesini disarankan menggunakan kendaraan roda dua maupun kendaraan roda empat. Pasalnya jarak tempuh menuju area bendungan lumayan memakan waktu sekitar 15-30 menit dari Talang Padang.

Konon, Bendungan Batu Tegi merupakan bendungan terbesar di Asia Tenggara. Bendungan buatan Jepang dan Jerman ini memiliki konstruksi yang sangat kokoh dan kuat dengan teknik pengecoran yang canggih. Awalnya bendungan ini  hanya berfungsi sebagai tempat penampungan air untuk kegiatan pertanian dan pengelolaan listrik. Air-air dari bendungan yang terletak di Kecamatan Air Naningan ini dialirkan ke beberapa kabupaten seperti Lampung Tengah, Tanggamus, Metro hingga Lampung Timur.  


 seperti jurang ini di Batu Tegi loh

Namun kini, banyak wisatawan yang berdatangan untuk berwisata di sini. Walaupun begitu objek wisata ini belum terlalu populer di Lampung. banyak yang tidak tahu jika Lampung memiliki objek wisata terbesar di Asia Tenggara ini. Banyak hal yang bisa kita lakukan di sekitar area bendungan yang memiliki luas ha ini. salah satunya adalah motor trekking. Ini merupakan salah satu wahana baru yang jalur trekking dibuat oleh komunitas pecinta motor trekking. Para pengunjung khususnya pecinta motor trekking bisa dengan leluasa menjelajahi jalur trekking yang begitu menantang andrenalin. Jalur trekking yang begitu bagus dan terawat menambah betah para pengunjung, apalagi pemandangan disini masih begitu alami. 

 
Masih dengan airnya yang jernih

Anda hanya ditarik tarif masuk sekali di pintu pertama. Selebihnya Anda bebas mengunjungi berbagai area yang Anda inginkan. Selain jalur trekking ada juga bumi perkemahan. Selain sebagai sarana wisata alam, area bendungan Batu Tegi ini bisa dijadikan sebagai wahana wisata pendidikan. Bumi perkemahan ini sering dipakai untuk kegiatan-kegiatan kepramukaan. Lapangan yang sangat luas dan datar menjadi keunggulan tersendiri bumi perkemahan ini. Apalagi para pengunjung diharuskan menjaga lingkungan agar tetap asri seperti dilarang membuang sampah sembarangan. 

 
Pemadangan hijau hampir merata

Pada sisi lain Anda juga mengelilingi danau menggunakan perahu nelayan setempat. Melalui dermaga pada sisi kanan dari arah bendungan, Anda bisa melihat keasrian alam di kawasan bendungan ini. Jika Anda ingin mengelilingi danau sebaiknya saat pagi hari selain pemandangannya masih sejuk juga dijamin warga setempat siap mengantarkan Anda mengelilingi bendungan. Harga yang ditawarkan pun tergolong murah. Jadi buat Anda yang berlibur kesini selain murah meriah, Anda juga akan kembali fresh setelah sepekan disibukkan dengan aktivitas pekerjaan yang melelahkan.

Bendungan yang diresmikan pada tahun 2004 ini juga memiliki beberapa fasilitas. Diantaranya masjid berornamen Lampung. Masjid yang dibangun oleh pemprov Lampung ini selain sebagai sarana ibadah umat muslim juga sebagai pelestarian cagar budaya ornamen khas Lampung. Jadi, buat Anda tak perlu khawatir jika datang kesini. Selain itu, ada juga penjual aneka jenis makanan. Para penjual itu akan memenuhi area fast food di sekitar danau saat akhir pekan. Diluar akhir pekan, hanya beberapa penjual saja yang berjualan di sini. 


Sepanjang jalan , masih 1 kilometer

Mengunjungi bendungan ini sebaiknya Anda menggunakan kendaraan pribadi. Selain Anda bebas untuk mengelilingi area yang Anda inginkan juga lebih efektif mengingat kawasan bendungan ini sangat luas.
Hutan yang begitu hijau nan rimbun menjadi salah satu andalan dan daya tarik tersendiri bagi para wisatawan disini. Wisata ini sangat cocok untuk wisata keluarga. Pepohonan yang begitu rimbun bisa dijadikan sebagai kanopi selama Anda berlibur kesini. Bercengkrama bersama keluarga sambil duduk diatas tikar menjadi kesan tersendiri untuk Anda. Objek wisata ini juga tergolong aman untuk anak-anak. Sembari berwisata bisa juga mengenalkan alam sekitar kepada anak-anak kita.

Bendungan Batu Tegi merupakan salah satu aset wisata Lampung yang sangat potensial menyedot wisatawan dari berbagai daerah. Selain kemegahan bendungan ini, daya tarik lainnya seperti hutan alami juga menjadi magnet tersendiri bagi para pengunjung untuk datang kesini. Maka tak heran jika pemda Tanggamus begitu gencar dan aktif mempromosikannya. Ayo berkunjung ke Batu Tegi, dijamin Anda pasti ingin datang lagi. 


Sisi kanan Bendungan Batu Tegi

Jumat, 30 Mei 2014

Wisata Budaya : Melihat Gedung Dalom tempat Nayuh dilaksanakan




Gedung Dalom dipenuhi para bebai (wanita) saat prosesi Nayuh dilaksanakan


Pada umumnya rumah adat Lampung berbentuk panggung. Hamir 90 persen bahan yang digunakan pun menggunakan kayu. Namun, tidak semua suku Lampung membuat rumah jenis panggung untuk huniannya. Namun, nilai-nilai filosofis akan sebuah bangunan bernama rumah adat masih dipegang teguh oleh suku Lampung di Pekon Sukajadi yang merupakan suku Lampung Marga Pertiwi di Marga Pugung, Tanggamus. Pada umumnya rumah disini berbentuk layaknya rumah-rumah di perkampungan yang biasa kita jumpai. Sekilas kita belum merasakan denyut budaya Lampung. Namun, saat upacara adat dilakukan, nuansa Lampung-nya begitu terasa. 

Dalam sebuah upacara adat suku Lampung. Sebuah bangunan memiliki peranan yang begitu penting. Selain sebagai sarana untuk berlindung diri, juga sarat akan nilai budaya. Seperti, saat upacara Nayuh beberapa waktu lalu. Gedong Dalom yang merupakan “istana” raja, begitu memiliki peranan yang amat penting dan sakral. Gedung Dalom ini merupakan rumah penyimbang (pimpinan) suku Lampung disini yang menggunakan adat Saibatin. 



 Singgasana Suttan di dalam Gedung Dalom



Gedung Dalom memiliki beberapa bagian yang digunakan dalam sebuah pesta adat. Namun, bagian yang paling meriah adalah ruang tengah. Pada bagian ruang tengah ada sebuah singgasana yang digunakan untuk duduk raja dan ratu. Sementara para tamu agung duduk di lantai yang telah alaskan tempat duduk bantalan. Sementara disana ada talam becukut (talam berkaki) yang dipenuhi dengan aneka makanan tradadisional Lampung.



 
 Talam Bucukut - tempat menaruh makanan suttan dan petinggi kerajaan



Pada bagian dindingnya dihiasi dengan kebung (semacam hordeng dengan bentuk segiempat). Kebung ini memiliki simbol yang berbeda-beda. Jika kebungnya berwarna dominan putih itu artinya milik Suttan (pimpinan tertinggi). Sementara untuk para saibatin memiliki corak segitiga yan berbasangan keatas dan kebawah dengan dominan warna merah. Namun, beberapa garis lainnya pada bagian kebung ada warna hitam, kuning dan putih. Kebung-kebung ini memenuhi Gedung Dalom yang digunakan pada saat pesta adat ini.


 
 Kebung yang berfungsi untuk menutupi dinding, beda warna beda makna




Kebung berwarna putih ini menandakan milik Suttan



Pada bagian atas kebung, ada kaghedaian. Kaghedaian ini merupakan kain tradisonal aneka warna dan corak yang ditaruh pada bambu panjang diatas kebung. Jika kebung memenuhi Gedung Dalom, lain halnya dengan kaghedaian yang hanya memenuhi ruang tengah, tempat berlangsungnya pesta adat. Ada dua lapisan kaghedaian. Ini menunjukkan pada dalam kehidupan ada pimpinan dan yang dipimpin. Kain-kain tradisional ini haruslah kain panjang dengan motif yang beda-beda.




 Kaghedaian tampak berbaris rapih dengan tingkatan dua lapis



Sementara itu, bagian atas dari kaghedaian itu terdapat tikhai. Thikai ini dipasang pada bagian dinding paling atas dalam Gedung Dalom. Tikhai ini berbentuk segitiga memanjang dengan bulatan-bulatan kecil semacam manik-manik. Pada umumnya tikhai ini berwarna merah, hitam dan putih. Tikhai ini memiliki pernanan yang cukup penting. Hampir dalam setiap prosesi acara adat maupun kecil, tikhai hampir dipastikn hadir.


Bagian lain yang memiliki bagian cukup penting yakni Lalokhogkh. Lalokhogkh ini merupakan kain segiempat yang dipasang pada langit-langit Gedung dalom. Seperti halnya kebung yang memiliki beberapa warna dan simbol yang berrragam. Warna putih merupakan warna yang dimiliki oleh Suttan. Sementara Lalokhogkh yang berwarna dominan merah bercampur hitam, kuning dan putih biasanya dimiliki oleh para saibatin. 




 Lalokhogkh berwarna putih menandakan milik Suttan



Bagian lainnya dalam Gedung Dalom yakni Bulub Sangai. Tiang penyangga yang berdiri tegak diantara kebung pada bagian tengah gedung dalom. Bulub Sangai berwarna putih menandakan itu milik suttan. Sedangkan yang berwarna kuning miliki pangiran maupun dalom.

Seperti halnya pada bagian dalam, pada bagian luar Gedung Dalom juga dipenuhi dengan kebung yang menutupi keseluruhan Gedung Dalom.



Perlengkapan dalam Gedung Dalom




                                                         Tempat membuang sisa menyirih




                                                              Tempat sirih dan perlengkapannya






Terbaya, Pantai Berpasir Hitam nan Mempesona




Pantai Terbaya nan mempesona dengan pasir hitamnya


Seorang lelaki paruh baya menenggelamkan sebagian tubuhnya ke bibir pantai siang itu. Suasananya begitu sepi, hanya beberapa warga sekitar yang melintas di pinggir pantai sembari mandi di bilik-bilik bambu. Lelaki paruh baya itu seorang diri hanya ditemani gelombang yang sesekali menghempas tubuhnya. Itulah sedikit gambaran pantai Terbaya pada hari-hari biasa. Namun, saya weekend tiba, pantai ini akan dipadati pengunjung dari berbagai daerah terutama dari Lampung. Ratusan pengunjung bisa memadati pantai ini saat libur nasional atau pun saat akhir pekan tiba. Itulah gambaran Pantai Terbaya, atau dalam bahasa setempat dikenal dengan Tekhbaya. 

Saat akhir pekan tiba, pantai ini akan dipenuhi oleh pengunjung dari berbagai daerah. Bahkan, pengunjung dari luar kota seperti Jakarta, Palembang dan Serang pun sempat singgah disini. Pantai Terbaya cukup familiar di kalangan masyarakat Lampung terutama Tanggamus. Selain letaknya yang strategis di pinggir jalan juga lumayan murah tiket masuknya. Setiap pengunjung harus membayar tiket masuk, bagi pengguna sepeda motor dikenai harga Rp 15ribu. Sementara, untuk pengunjung yang menggunakan mobil pribadi dikenai charge Rp 25ribu. Bagi rombongan bus dikenai harga Rp 80ribu – Rp 150ribu.

Pantai Terbaya terletak di Desa Terbaya Kecamatan Kota Agung Timur Kabupaten Tanggamus. Pantai berpasir hitam ini bisa ditempuh menggunakan motor maupun mobil pribadi. Anda membutuhkan waktu sekitar 2-3 jam perjalanan dari Kota Bandar Lampung. Jalanan yang dilalui relatif mulus dan aman. Ada beberapa kelokan yang akan Anda lewati saat masuk kawasan Kota Agung. Pemandangan perbukitan yang begitu hijau pun begitu memukau. Apalagi diantara sisi perbukitan itu tersembul pemandangan Teluk Semaka yang begitu mempesona. Perpaduan yang benar-benar sempurna.



 Tugu Selamat Datang di Kota Agung perbatasan dengan Gisting Atas - Tanggamus



Pantai indah ini menjadi salah satu pantai tujuan utama di Tanggamus. Pantai ini sedikit berbeda dengan pantai-pantai pada umumnya yang didominasi pasir putih. Pantai terbaya berpasir hitam dan banyak sekali bebatuan yang tersebar di sepanjang bibir pantai. Batu-batu laut ini memang sudah ada sejak jaman dulu. Semakin ke arah kanan pantai, semakin banyak batu-batu pualam yang akan Anda temukan. Walaupun banyak bebatuan , namun Anda tetap saja bisa nyaman menyusuri bibir pantai nan eksotis ini.
Ada banyak kegiatan yang bisa kita lakukan saat mengunjungi pantai ini. Mulai dari menyusuri bibir pantai dengan pasirnya yang berwarna hitam hingga renang di pinggir pantai. Namun, hanya bagian sisi kanan pantai yang bisa digunakan untuk berenang. Ketinggian gelombang rata-rata antara 1- 2,5 meter. Pada saat-saat tertentu gelombang bisa mencapai 7 meter dan pengunjung dilarang berenang. Pada sisi kirinya umumnya banyak bebatuan berwarna hitam yang memenuhi pantai hingga kedalaman tertentu.



 Ombak Pantai Terbaya sangat aman untuk berenang


Pantai Terbaya masih tergolong alami, fasilitas yang disediakan hanya berupa gubug-gubug mungil beratapkan rumbia. Sebuah gubug mungil disewa dengan harga Rp 10ribu – Rp 15ribu tanpa ada batasan waktu. Selepas berenang Anda bisa membilas tubuh Anda dengan air tawar yang menyejukkan. Banyak bilik-bilik bambu yang digunakan untuk mandi oleh warga sekitar. Namun, saat banyak pengunjung bilik mandi ini berubah fungsi menjadi tempat pembilasan. Setiap pemakai jasa bilik mandi ini dikenai tarif sebesar Rp 2ribu. 



 Berfoto di area pantai walau minim fasilitas tapi tetap asyik


Pantai Terbaya sudah mulai dikunjungi wisatawan sejak tahun 70-an, namun baru sekitar tahun 1989 pantai ini baru benar-benar dibuka secara resmi untuk wisatawan. Sejak saat itulah pantai sepanjang 5 km ini semakin ramai didatangi para wisatawan. Biasanya wisatawan tahu dari mulut ke mulut. Namun tak sedikit juga yang mengetahuinya lewat internet. 



 Plang Pantai Terbaya - Pintu masuk II


Ada dua pintu masuk yang bisa digunakan oleh pengunjung memasuki kawasan Pantai Terbaya. Pintu masuk yang pertama ada plang ucapan selamat datang yang terbuat dari bambu. Ibu Aidawati biasanya selalu menjaga pintu pertama ini. Pintu masuk yang kedua dijaga oleh saudara ibu Aidawati sendiri. Anda akan disambut oleh resto besar yang terbuat dari rumbia dengan desain yang modern.



 Jalur trek mungil yang akan Anda lewati di pintu masuk I



 Pintu masuk II - disambut dengan resto yang modern


Warga sekitar juga memanfaatkan pantai ini untuk tujuan ekonomis seperti mencari cumbi. Cumbi ini merupakan binatang sejenis keong laut. Warga di beberapa daerah lainnya menyebutnya tutut. Cumbi ini banyak sekali ditemukan disini. Warga sekitar memanfaatkannya untuk makanan sehari-hari.


Selain wisata pantai ini juga banyak memiliki potensi ekonomi salah satunya cumbi si keong laut













Pages