Minggu, 17 Agustus 2014

Wisata Budaya : Kebaya dipadu dengan Tenun Ikat Selinggang Alam





Kain ikat Selinggang Alam merupakan kain ikat khas Lampung yang berasal dari daerah Menggala, Tulang Bawang. Kain ikat Selinggang Alam merupakan salah satu kain yang sudah cukup tua usianya. Kain ikat Selinggang Alam tentunya tak jauh dari legenda seorang bidadari yang turun di Menggala, Tulang Bawang. Ini hanyalah sebuah legenda yang cukup populer di Menggala. Ternyata legenda tersebut turut memperkaya khazanah budaya bangsa memlalui kain tradisional. Lama tak begitu dikenal, kini, Kain Ikat Selinggang Alam mulai populer kembali. 

 

Salah satu designer yang turut mempopulerkan yakni Raswan. Kain ikat Selinggang Alam yang biasanya digunakan untuk upacara adat Lampung kini dimodifikasi menjadi pakaian lebaran yang kental dengan nuansa etnik Lampungnya. Tenun Ikat Selinggang Alam memiliki motif yang unik yang tidak ditemukan pada kain tradisional lainnya di Lampung. Dominan warna yang digunakan berwarna merah dengan dipadu sedikit warna krem. Ini menjadi paduan yang sangat menarik. 


 


Kain Ikat Selinggang Alam oleh Raswam dipadu dengan kebaya berwarna putih dan hijab yang berwarna putih. Agar semakin anggun, desainer yang akan mewakili Lampung ke Turki ini menambahkan Selendang sutra batik tulis. Motif yang digunakan pada selendang ini menggunakan motif pelepai (kain kapal) yang berasal dari pesisir Kalianda, Lampung Selatan. Semuanya menjadi paduan yang cantik dan cocok dipakai saat berlebaran. “Kain ikat selinggang alam juga cocok dipakai buat lebaran apalagi dipadu dengan selendang sutra, makin cocok,” kaat dia.

 

Selain itu, menyambut Hari Raya Idul Fitri 1435 Hijriyah ini, Raswan juga kembali mengeluarkan desain tenun ikat inuh Kalianda dipadu dengan kebaya bordir Lampung. Kain ikat tenun inuh ternyata tidak hanya berasal dari Lampung Barat saja. Masyarakat pesisir Kalianda juga mengenal kain ikat tenun inuh. Motif yang digunakan juga banyak mendapat pengaruh dari daerah pesisir Kalianda.




  
Kain inuh dari Kalianda ini memiliki motif kapal (pelepai) dan juga siger. Kain inuh ini dipakai seperti layaknya menggunakan kain tradisional Lampung lainnya. Kali ini Raswan memadukan dengan kebaya bordir Lampung yang memiliki renda-renda berbentuk bunga-bunga. Renda-renda itu memenuhi bagian lengan dan pada ujung kebaya. Warna yang digunakan pada kebaya bordir Lampung cenderung berwarna silver. Kain ikat tenun inuh dipadu dengan kebaya bordir Lampung menjadi satu paduan yang sangat istimewa di hari raya. “Kain tradisional Lampung juga bisa mendunia dan nggak kalah kain-kain lainnya di Indonesia,” kata dia. 




Pantai Duta Wisata nan Mempesona



Tampak tiga pemuda yang sedang asyik menyusuri sebuah pantai di kawasan Teluk Lampung. Tidak seperti pantai-pantai di kawasan pesisir Lampung yang banyak berpasir, pantai ini cenderung berkarang. Hanya di beberapa sisi saja yang menandakan pantai ini bisa digunakan untuk mandi. Hampir di sepanjang bibir pantai ditembok menggunakan semen bercampur kerikil. Tembok ini tampak kokoh dan menambah cantik pemandangan. Itulah sekilas gambaran tentang Pantai Duta Wisata. 

 


Pantai Duta Wisat terletak di kelurahan Sukamaju Kecamatan Teluk Betung Timur, Bandar Lampung. Pantai ini termasuk pantai yang ramai dikunjungi oleh warga Bandar Lampung. Selain jarak tempuhnya yang tak terlalu jauh dari pusat Kota Bandar Lampung juga ada beberapa wahana yang bisa dinikmati di sini. Kita membutuhkan waktu sekitar 15-25 menit agar bisa sampai di pantai ini. Pintu gerbang pantai duta wisata tampak berdiri tegak dengan dominan warna krem. Para pengunjung harus kembali menyusuri jalanan berkerikil agar sampai di bibir pantai. Semakin ke dalam sebagai banyak pepohonan yang akan kita jumpai. Kita seolah-seolah sedang dibawa menuju hutan mini di pinggir pantai.




Pantai cantik ini telah dibuka sejak tahun 90-an. Sejak saat itu pantai ini mulai dikunjungi wisatawan dari dalam dan luar daerah. Setiap pengunjung yang masuk menuju kawasan wisata ini dikenai tarif sebesar Rp 10ribu untuk pengunjung dewasa.Sementara untuk pengunjung anak-anak dikenai tarif sebesar Rp 7000. Selain dikenai tarif per individu, bagi pengguna mobil ukuran besar dikenai tarif Rp 20ribu, mobil ukuran sedang Rp 15ribu dan untuk mobil ukuran kecil Rp 10ribu. Memang pantai ini bisa dikatakan sebagai pantai ekslusif milik orang-orang “berada”. Bolehlah sekali-kali kita menikmati pantai eksotis ini yang ramai dikunjungi oleh para pemilik mobil-mobil mewah, hehehehe. Konon, menurut warga setempat pantai ini ramai dikunjungi saat akhir pekan datang. Tak jarang diantaranya mereka banyak yang membawa mobil namun pengguna motor juga banyak kita temukan di pantai ini. 


 

Banyak wahana yang bisa kita nikmati di pantai ini. Pada bagian sisi kanan pantai ada bagian yang memang aman digunakan untuk mandi, bahkan ada tiang penyangga yang bisa digunakan untuk pegangan. Jadi bagi para pengunjung memang ada semacam tangga kecil yang dimuat dan tiang penyangga untuk mempermudah pengunjung mandi di bibir pantai. Warga setempat banyak juga yang menyewakan ban untuk renang. Ban ukuran besar dikenai biaya sewa sebesar Rp 10ribu sementara ban dengan ukuran kecil dikenai biaya sewa sebesar Rp 5000. Sewa ban ini tanpa adanya batasan waktu, artinya pengunjung bisa menyewa ban itu selama seharian untuk renang. Pantai duta wisata ini cocok untuk mandi saat sedang surut karena jika sedang pasang ombaknya terlalu besar.


 

Pantai ini termasuk pantai yang lumayan bersih, petugas kebersihan menyampu jalanan setiap pagi dan sore hari. Jadi, Anda bisa berlama-lama menikmati pemandangan dengan deretan pepohonan yang rindang dan bersih. Selain itu, Anda juga bisa memancing di bagian sisi kiri pantai ini. Banyak juga warga yang biasa memancing di sini hanya untuk sekedar mengisi hari-hari libur. Berbagai jenis ikan ada di sini, ada juga beberapa perahu nelayan yang masih berseliweran di sekitar pantai. Tak jauh dari pantai ini tampak tempat pelelangan ikan yang biasa melakukan transaksi perdagangan ikan. Jadi, buat Anda selepas berkunjung ke pantai ini bisa langsung menuju tempat pelelangan ikan. 

 



Selain pantai, ada juga dua kolam yang cukup besar yang biasany digunakan untuk wahana bebek-bebekan untuk permainan anak kecil. Namun, sayang kolam besar itu kini menyerupai danau kecil di dekat pantai tanpa aktivitas. Bebek-bebekan itu juga tampak mangkrak di pinggir pantai. Selain itu, fasilitas seperti musola dan gedung serbaguna juga ada di sini. Jadi, bagi Anda yang muslim tak perlu khawatir berlama-lama di sini tanpa meninggalkan kewajiban salat. Warung-warung makan dan snack juga tampak memenuhi sisi kanan pantai. Para penjual akan semakin ramai saat akhir pekan tiba. Pantai ini juga dilengkapi ruang mandi dan pembilasan. Berkunjung ke pantai ini banyak aktivitas yang bisa dilakukan. Ayo berkunjung ke Pantai Duta Wisata. 


Wisata Budaya : Sulam Tapis Sutra dipadu dengan Batik Bordir Ncim


Menyambut hari idul fitri Raswan Tapis Pasion Designer yang beralamat di Jalan Wolter Monginsidi no 159 Teluk Betung, Bandar Lampung ini mengeluarkan desain terbaru. Salah satu desain yang pertama yakni Sulam tapis sutra yang dipadupadankan dengan batik bordir ncim. Sulam tapis sutra merupakan pakaian khas tradisional Lampung yang ternyata nyaman digunakan saat lebaran. Selain kental dengan nuansa etniknya kain ini juga cenderung lebih halus.





Selama ini masyarakat mungkin belum terlalu paham jika pakaian etnik Lampung ternyata cocok dipakai untuk lebaran. Sulam tapis sutra ini dibuat menggunakan dua motif yakni motif cucuk handak dan motif tapis kaca. Kedua motif ini merupakan motif khas Lampung yang mulai jarang dipakai. Namun, Raswan, designer Lampung ini berusaha mengangkat kembali motif-motif khas Lampung yang sudah cukup tua ini. Semua rancangan ini dikerjakan oleh Raswan langsung dan dibantu beberapa staf saja. Maka tak heran jika pakaian-pakaian yang dikeluarkannya merupakan desain yang sekali keluar. 

 






Penggunaan motif cucuk handak ini memiliki paduan warna yang serasi. Warna hijau, merah, putih begitu kental dan menjadi satu paduan warna yang menarik. Selain itu ciri khas dari motif cucuk handak ini yakni nuansa flora dan faunanya yang begitu kental. Motif seperti bunga-bunga dan tumbuhan begitu terlihat dalam pakaian karya Raswan ini. Maka tak mengherankan jika kain motif bunga-bunga banyak dicari oleh para fashonista. Motif yang kedua yakni motif tapis kaca. Dalam hal ini penggunaan motif tapis kaca terlihat dari manik-manik yang menempel pada beberapa bagian kain. Selain itu, batu-batuan alam yang sudah diasah sehingga tampak mengkilat juga tampak memenuhi kain tapis sutra ini. Inilah kedua motif yang digunakan Raswan untuk membuat sulam tapis sutra ini. 



 


Kemudian Raswan memadukan sulam tapis sutra ini menggunakan batik bordir ncim. Batik bordir berwarna merah muda ini tampak terlihat anggun dengan bordiran yang terlihat rapih. Raswan sengaja tidak memakai lengan panjang menutupi seluruh lengan. Ia sengaja mengonsep pakaian ini cocok juga dipakai santai di rumah saat berlebaran. “Anak muda kan biasanya nggak mau ribet, jadi balutan busana ini tetap nyaman dan cocok dipakai saat lebaran,” kata dia.



 


Busana Muslim dipadu Tenun Ikat Kain Inuh 
 

Selain itu, Raswan juga mengeluarkan koleksi terbaru berupa Busana muslim yang dipadu dengan tenun ikat kain inuh. Kain inuh merupakan pakaian  khas Lampung yang berasal dari Lampung Barat. Kain inuh ini juga cocok digunakan saat lebaran. Kain inuh ini lebih nayaman digunakan saat lebaran karena memiliki beberapa keunggulan seperti mofit etnik yang kental, nyaman, enteng dan cocok digunakan saat open house bersama pejabat-pejabat penting maupun silaturahmi mengunjungi sanak saudara. 



Ciri khas dari kain inuh ini yakni motif yang digunakan begitu khas seperti penggunaan benang emas dan juga motif kayu hala (kayu aro). Kain ikat inuh ini cocok digunakan busana muslim yang berwarna putih serta menggunakan hijab berwarna gelap. Raswan juga menambahkan aksesoris berupa selendang berwarna putih yang senada dengan warna baju busana muslimahnya. “Intinya kain dengan nuansa etnik Lampung ini jika dipadupadankan dengan pas, cocok untuk semua acara termasuk saat open house bersama pejabat,” kata dia. 


 


Wisata Budaya : Busunat, tradisi khitan ala suku Lampung







Masyarakat Lampung memiliki tradisi yang unik yang tidak dimiliki oleh suku lainnya di Indonesia. Apalagi saat ini kita mengenal adanya dua jurai yakni Lampung Pepadun dan Saibatin. Hal ini tentunya semakin memperkaya khazanah budaya Indonesia khususnya Lampung. Dalam proses daur hidup masyarakat Lampung semua masa proses peralihan kehidupan memiliki upacaranya masing-masing. Mulai dari proses kelahiran, menginjak masa remaja, pernikahan hingga kematian. Semuanya dilakukan secara adat. Salah satu tradisi yang masih berkembang hingga saat ini adalah Busunat. 

 


Lazimnya tradisi busunat hanya dilakukan oleh anak laki-laki yang mulai menginjak masa akil baligh (dewasa). Ini merupakan salah satu prosesi yang harus mereka ikuti. Apalagi sejak islam masuk dalam tataran suku Lampung, islam begitu mempengaruhi kehidupan merka termasuk dalam tradisi busunat ini. Dalam ajaran agama islam sunat merupakan salah satu yang salah satu sunnah nabi yang diperintahkan kepada setiap umat muslim laki-laki. Tujuannya adalah untuk membersihkan diri dari kotoran. Demikian pun dengan tradisi busunat ini yang merupakan salah satu prosesi menuju pendewasaan diri. 



 Ngarak merupakan proses mengarak kabayan sunat (pengantin sunat) menuju rumah ayahnya berasal. Dalam hal ini rumah nenek/kakek mereka. Sementara busunat merupakan istilah dalam bahasa Lampung yang berarti berkhitan. Ini merupakan salah satu tradisi yang masih dikembangkan oleh masyarakat Lampung pesisir yang tinggal di Pekon Tekhbaya Kecamatan Kotaagung Timur Kabupaten Tanggamus. Mereka secara turun temurun masih melakukan ngarak kabayan sunat (busunat) sebagai sebuah tradisi dan warisan leluhur yang harus mereka jaga hingga akhir massa. 


 

Tradisi ngarak kabayan sunat atau yang lazim dikenal dengan ngarak kabayan lunik ini merupakan salah satu rangkaian dalam acara adat Busunat. Pada kesempatan kali ini ada dua kabayan lunik yang akan melakukan acara adat busunat. Mereka adalah kakak beradik yakni, Ivan dan Ahda yang berumur 11 dan 8 tahun. Awalnya kedua kakak beradik ini dari rumah memakai pakaian sederhana namun bisa juga menggunakan jas modern yang biasa kita kenal. Sementara itu, dalam rombongan ngarak tersebut kedua kabayan sunat ini berada dalam barisan paling depan serta dikelilingi oleh muli lunik (gadis silik) yang merupakan saudari-saudari dari kedua kabayan sunat tersebut. Selain itu ada dua orang pemuda yang turut mengawal dan berada disamping kedua kabayan tersebut. Kedua pemuda itu merupakan saudara laki-laki dari ayah/ibu mereka. 



Selain itu, turut pula dalam rombongan keluarga besar dari ayah dan ibu kedua kabayan sunat itu terutama kaum wanita. Memang dalam prosesi ngarak kabayan sunat kali ini didominasi para wanita. Selama prosesi ngarak para wanita tersebut terus bernyanyi dengan diiringi tabuh rebana. Mereka bernyanyi riang gembira sebagai salah satu ungkapan kegembiraan dan sukacita atas dikhitannya kedua kabayan sunat. Lagu-Lagu tradisional Lampung terus didendangkan sepanjang perjalanan. Hanya sesekali mereka berhenti untuk merapihkan para peserta ngarak kabayan sunat ini. Lagu-lagu yang didendangkan tersebut berisi doa-doa dan ungkapan kegembiraan. Maka tak heran lagu tersebut dimulai dengan ucapan salam dalam islam.

Dalam tradisi masyarakat Lampung pesisir prosesi ngarak dilakukan dan biasanya tempat yang dituju untuk ngarak adalah rumah dari orangtua kabayan (pengantin) itu berasal. Maka pada tradisi ngarak ini kedua kabayan sunat tadi dari rumah diarak menuju rumah nenek/kakek mereka dari pihak ayah. Saat rombongan ngarak sampai di rumah yang dituju maka sang tuan rumah mempersilahkan masuk para peserta ngarak. Kedua kabayan sunat ini kemudian berganti pakaian menggunakan pakaian tradisional Lampung pesisir. Pakaian adat tersebut dibawa oleh beberapa orang yang turut dalam prosesi ngarak sebelumnya. 


 


Selama kedua kabayan sunat ini berganti pakaian, ibu-ibu yang kembali memainkan tabuh rebana untuk mengisi acara agar terlihat lebih semarak dan bahagia. Kali ini lagu-lagu yang didendangkan lebih bersifat ceria dan hiburan. Para peserta tampak bahagia melihat para ibu-ibu memainkan rebana. Sesekali mereka akan berhenti untuk menikmati hindangan berupa buak (kue) khas Lampung yang diletakkan diatas seprai (kain segi panjang yang diletakkan di lantai sebagai alas). Selepas menikmati hidangan biasanya mereka akan terus memainkan alat musik rebana hingga kedua kabayan sunat siap diarak menuju rumah mereka.






Saat kedua kabayan sunat sudah memakai pakaian adat maka akan kembali diarak. Kedua kabayan sunat ini mengenakan pakaian adat Lampung pesisir dengan warna dominan merah. Mereka juga menggunakan penutup kepala yang lebih dikenal dengan iket pucuk. Penutup kepala ini semacam topi dengan bagian ujungnya yang begitu lancip. Ini menjadi salah satu ciri khas masyarakat Lampung pesisir. Selama prosesi ngarak kabayan sunat ini para ibu-ibu akan kembali menabuh musik rebana hingga sampai di rumah kedua kabayan sunat tadi. Namun, pada prosesi ngarak ini mereka juga akan diarak bersamaan dengan ibu ratu (istri saibatin/pimpinan) masyarakat setempat.



 Ibu ratu juga telah diarak oleh para ibu-ibu yang menggunakan payung khas berwarna putih. Ibu ratu berjalan paling depan, sementara kedua kabayan sunat berada di belakang ibu ratu. Mereka akan terus berjalan dan diiringi tetabuhan hingga sampai di rumah. 


 



 


Sesampainya di rumah kedua kabayan sunat dan ibu ratu akan disambut oleh dua orang laki-laki dewasa dari pihak orangtua kabayan sunat dan kelama (keluarga besar pihak ibu kabayan sunat). Mereka saling berbalas pantun sebagai sebuah tradisi masyarakat Lampung saat menyambut kabayan. Setelah itu selesai, barulah mereka diperkenankan memasuki rumah. Inilah salah satu tradisi ngarak kabayan sunat yang masih terus lestari hingga kini. Tabik.


















Pantai Bahari Ketapang, surga lain di tanah Lada




Pantai dengan perpaduan warna biru dan hijau toska itu mulai tampak saat Anda melewati tanjakan tak jauh dari Kampung Batu Menyan, Padang cermin. Anda pasti akan terpana menatap pemandangan alam yang begitu mempesona di pinggir Teluk Lampung itu. Gunung, perpaduan warna air laut hingga deretan pohon kelapa yang tak terhitung jumlah mempercantik pemandangan itu. Tak sedikit para pengguna jalan yang kemudian berhenti sejenak untuk sekedar berfoto. Itulah gambaran Teluk Lampung yang akan Anda lewati jika Anda akan berkunjung ke Pantai Bahari Ketapang.


 


Pantai Bahari Ketapang memang tidak sepopuler Pantai Mutun maupun  Pantai Kelapa Rapat. Namun sebenarnya pantai ini tak kalah indahnya dengan pantai lainnya di Lampung. Bahkan, pantai ini lebih eksotik dibandingkan pantai-pantai lainnya. Mulai dari perpaduan warna air lautnya, pasir pantainya yang begitu lembut dan bersih, deretan nyiur melambai persis di bibir pantai membuat pantai ini semakin eksotis. Anda pasti akan berdecak kagum melihat pantai perawan ini. Jika pantai ini terus dipromosikan tak menutup kemungkinan pantai ini akan menjadi salah satu primadona baru di Lampung.


 






Pantai ini terletak di Desa Ketapang (Batu Menyan)  Kecamatan Padang Cermin Kabupaten Pesawaran. Pantai ini bisa ditempuh 40-60 menit dari pusat Kota Bandar Lampung menggunakan kendaraan roda dua maupun roda empat. Jalanan yang akan Anda lewati lumayan mulus hanya di beberapa bagian saja yang jalannya kurang terurus. Sepanjang jalan menuju kawasan pantai ini Anda akan disuguhi dengan deretan pantai-pantai lainnya yang terletak di pesisir Teluk Lampung ini. Pantai yang juga dikenal dengan nama Pantai Ketapang ini terletak paling ujung di Desa Ketapang. Di kawasan ini hanya ada tiga rumah warga. Namun, sebelum memasuki pantai ini Anda akan banyak menemukan rumah penduduk. 


 



Jika Anda berkunjung ke pantai ini menggunakan motor dan berjumlah dua orang Anda akan dikenai tiket masuk Rp 10ribu sementara untuk mobil pribadi dikenai tarif Rp 20ribu. Pantai yang telah dibuka sejak tahun 1990-an ini menawarkan suasana damai yang mungkin tak Anda temukan di pantai lainnya. Deretan pohon kelapa yang begitu banyak membuat suasana sejuk pada pantai ini. Banyak aktivitas pantai yang bisa Anda lakukan di sini mulai dari renang, menyelam, memancing hingga banana boat. Pantai yang memiliki ombak tenang ini sangat rekomendid untuk Anda kunjungi bersama keluarga. Pondokan yang terbuat dari papan kayu dan beratapkan rumbia ini juga bisa Anda sewa dengan harga Rp 25ribu selama seharian. Banyak pondokan mungil yang berbaris memanjang di dekat pantai. Selain itu, Anda juga bisa menyebrang menuju Pulau Klagian yang terletak di depan pantai ini. Pulau Klagian sangat tampak jelas dari pantai cantik ini. Jadi, tak ada salahnya jika Anda berlibur ke pantai ini.


 


Mungkin karena belum begitu populer maka Anda seolah berada di kawasan private beach. Pantai ini seolah menjadi milik Anda saat berada di sini. Benar-benar pantai yang menawarkan sejuta pemandangan. Jika Anda ingin renang dan menyewa ban renang di sini juga banyak tersedia. Satu ban besar dikenai harga sewa sebesar Rp 10ribu sedangkan untuk ban renang ukuran kecil dikenai sewa sebesar Rp 5ribu. Anda juga tak perlu khawatir renang di sini karena di pantai ini tidak ada batu karang. Pasir putih hingga lumpur laut menjadi bagian tak terpisahkan saat Anda renang dan semakin menuju ke tengah pantai ini. Fasilitas kamar mandi di pantai ini memang belum ada. Namun, warga setempat menyediakan tempat pembilasan dengan tarif Rp 2ribu sekali bilas. Jadi, Anda tak perlu khawatir untuk mencari tempat bilas di sini. 


 


Saat akhir pekan tiba biasanya ada juga penjual warung makanan di sini. Namun, saat hari-hari biasa mereka akan menutup warungnya. Ini lantaran pantai ini belum banyak pengunjung. Mungkin lantaran pantai ini terletak menjorok ke dalam perkampungan sehingga pantai ini belum begitu dikenal masyarakat Lampung. Namun, soal pemandangan alamnya pantai ini bisa diadu dengan pantai-pantai lainnya di Lampung. Selain menikmati kawasan pantai yang cantik ini Anda juga bisa menyebrang menikmati pemandangan di Pulau Klagian. Sementara itu, Pulau Pahawang yang kini tengah naik daun berada di belakang Pulau Klagian ini. Banyak jasa kapal yang menyewakan tour penyebrangan ke pulau-pulau sekitar. Jadi, buat Anda yang ingin menikmati libur lebaran nanti Pantai Bahari Ketapang bisa menjadi pilihan Anda dan keluarga. Selamat Berlibur.  


Wisata Budaya : Tradisi Pemakaian Langkai (Lakkai) yang Unik dan Antik





Suku Lampung memiliki banyak tradisi unik dan tidak ditemukan di daerah lainnya di Indonesia. Sebagian tradisi itu masih lestari dan bisa kita temukan hingga kini. Suku Lampung yang tinggal di Lampung barat khususnya daerah Belalau dan Batu Brak hingga kini masih melestarikan tradisi pemakaian Lakkai untuk menyajikan hidangan. Lakkai ini merupakan kantong untuk menyimpan nasi yang terbuat dari daun Limbang (sejenis tanaman air). Lakkai ini berbentuk bulat melingkar dengan panjang sekitar 20-25 cm. Diameter lakkai sekitar 15 cm. Lakkai ini memiliki banyak kegunaan untuk menjaga nasi agar tidak cepat basi. Kantong nasi khas Lampung ini juga biasanya digunakan saat bepergiaan agar nasi tetap terasa enak.



 




 



Kini, walaupun penggunaan lakkai mulai jarang digunakan  namun beberapa pekon masih menggunakannya. Salah satunya di Pekon Canggu, saat Lampung Post berkunjung ke Lamban Suka Banjakh milik Saripudin tuan rumah menyuguhi nasi yang diletakkan di dalam Lakkai. Lakkai ini memang biasanya digunakan saat hajatan tiba maupun untuk menyambut tamu. Sebagai bentuk penghormatan tuan rumah kepada tamu yang berkunjung. Pemakaian lakkai ini memang telah berlangsung lama dan diwariskan turun temurun. 


 



 


Lakkai ini terbuat dari daun dan batang tanaman air yang sejenis dengan tanaman untuk membuat tikar. Masyarakat di Lampung Barat mengenalnya dengan sebutan Limbang. Tanaman yang memiliki tinggi sekitar 1-1,5 meter ini banyak ditemukan di sekitar sawah yang tumbuh secara liar. Proses pembuatan limbang sendiri biasanya dikerjakan oleh para wanita untuk mengisi hari-hari mereka. Daun yang juga seklaigus batang limbang ini setelah dipotong kemudian dijemur sekitar 1-3 hari tergantung cuaca. Setelah benar-benar kering batang Limbang itu kemudian dianyam dengan bentuk bulat melingkar. 



 


Untuk penggunaan lakkai juga memiliki cara tersendiri. Lakkai yang telah kering dan bersih kemudian diolesi menggunakan air untuk bagian dalamnya. Tujuan pengolesan air pada bagian dalam agar nasi tidak lengket. Setelah diolesi tipis menggunakan air barulah nasi yang telah matang dimasukkan ke dalam lakkai sesuai dengan ukurannya. Pada bagian ujung lakkai kemudian dilipat segitiga tak beraturan agar rapat. Jika lakkai rapat maka kehangatan nasi bisa tetap terjaga sehingga nasi tidak cepat basi. Nasi yang berada di dalam Lakkai tidak langsung dikeluarkan semuanya sekaligus. Kita bisa mengambil nasi yang berada di dalam Lakkai sesuai dengan kebutuhan. 



 



 



 



 



 


Menurut Arsan gelar Raja Putting Marga I mengatakan bahwa tradisi pemakaian lakkai telah berlangsung sejak ratusan tahun yang lalu. Cara mengeluarkan nasi yang berada di dalam lakkai yakni kita keluarkan sedikit demi sedikit dengan menekan kedua tangan kita pada lakkai itu sendiri. Ambillah nasi sesuai kebutuhan, karena nasi yang berada dalam lakkai lunik (lakkai kecil) bisa digunakan untuk 2-3 orang dewasa.



 



Lakkai tidak dijual bebas di pasar-pasar tradisional. Kita harus memesan dengan para perajian rumahan yang tersebar di Belalau maupun Batu Brak dengan harga Rp 2500 per buahnya. Dalam sehari para perajin bisa membuat 1-3 lakkai sesuai dengan kemahirannya masing-masing. Inilah salah satu kekayaan tradisi dan budaya di Lampung yang harus terus kita lestarikan. Ki mak ganta, kapan lagi. Ki mak kham, sapa lagi. Tabik .



 


 



 





Pages