Minggu, 17 Agustus 2014

Wisata Budaya : Pesta Sekura, cara suku Lampung merayakan Hari Raya Idul Fitri



Masyarakat suku Lampung memiliki berbagai macam seni budaya yang masih lestari hingga kini. Salah  satu warisan budaya leluhur yang masih bisa bisa kita saksikan hingga kini salah satunya yakni Pesta Budaya Sekura di Lampung Barat. Sekura dalam Bahasa Lampung berarti menutupi wajah menggunakan kain atau pun topeng kayu. Mereka berusaha menutupi wajah mereka agar tidak dikenali dalam tradisi sekuraan. Maka tak heran banyak juga warga yang mengenalnya dengan sebutan pesta topeng.



Tujuan diadakannya pesta budaya ini yaitu sebagai ajang silaturahmi antar sesama warga. Dulu acara ini diselenggarakan untuk mengungkapkan perasaan yang tidak tersampaikan antara mekhanai (bujang) kepada muli (gadis) yang disukainya. Dahulu konon, semua penonton sekura berada di serambi rumah panggung yang menjadi cirri khas pemukiman suku Lampung. Sementara para Sekura berada di bawah dan di jalan-jalan. Sesekali para sekura itu kemudian naik keatas rumah panggung untuk bersalaman dengan para penonton khususnya para gadis. Tak jarang mereka juga makan dan minum di rumah yang mereka kunjungi sesuai yang disediakan tuan rumah. Namun, kini, biasanya hanya wanita, anak-anak dan tamong (nenek) yang memenuhi serambi rumah panggung. 










Kini, pesta sekura lebih berkembangluas. Para penonton kini berbaur menjadi satu dengan para peserta sekura. Biasanya hanya para anak laki-laki dan pria dewasa saja yang ikut menjadi peserta sekura. Pesta budaya Sekura semakin meriah dengan berkumpulnya para pedagang yang memenuhi halaman rumah panggung. Pasar dadakan seolah menjadi bagian yang tak bisa terlepaskan saat pesta sekura dilaksanakan. Halaman-halaman rumah panggung itu menjadi lapak-lapak dadakan para penjual. Aneka jenis kebutuhan sehari-hari bisa ditemukan di sini. Mulai dari sayuran, buah-buahan, aneka makanan ringan, sembako, pakaian, mainan hingga souvenir bisa kita jumpai. Para penjual ini berbaur dengan para pembeli, wisatawan dan peserta sekura dari berbagai daerah di Lampung. Bahkan, ada juga wisatawan yang berasal dari luar daerah dan juga wisatawan asing yang berkunjung. 





 


 



Pesta budaya Sekura biasanya dilaksanakan setiap bulan syawal. Pesta budaya yang telah berkembang sejak ratusan tahun yang lalu ini biasanya diselenggarakan secara bergantian dari satu pekon ke pekon (desa) lainnya. Mulai 2 syawal hingga 7 syawal beberapa pekon di Lampung Barat pun mengadakan pesta budaya ini. Beberapa pekon yang masih aktif menyelenggarakan sekura yakni Pekon Balak, Canggu dan Kegeringan di Kecamatan Batu Brak. Selain itu di Kecamatan Belalau ada Pekon Kenali dan Pekon Negeriagung, Balikbukit, Liwa.


 



Pesta sekura biasanya berlangsung mulai pukul 09.00 pagi, namun sejak pukul setengah 6 pagi para pedagang sudah berkumpul di area berlangsungnya sekuraan. Para sekura biasanya mulai memenuhi jalanan sekitar pukul 7 pagi. Mereka saling bergerombol dating dari berbagai pekon (desa) di sekitar. Acara dimulai dengan parade para peserta sekura yang berkeliling di jalan-jalan utama tempat berlangsungnya pesta sekura. Banyak diantara para peserta sekura yang beratraksi di halaman rumah panggung. 


 





Acara pesta Sekuraan biasanya juga dimeriahkan dengan perlombaan muayak (tradisi lisan bertutur), hadrah (musik rebana islami) dan juga pencak silat. Puncak acara akan diselenggarakan selepas dzuhur ditandai dengan dimulainya panjat pinang (cakak buah) oleh para sekura kamak (kotor). Nyakak buah merupakan tradisi panjat pinang untuk memperebutkan berbagai hadiah yang digantung di puncak batang pinang. Batang pinang itu dilumuri dengan minyak oli, sabun dan terkadang dicampur gajih (lemak daging sapi / kambing). Pohon pinang yang digunakan memiliki ketinggian sekitar 7 – 8 meter dan dilengkapi dengan gantungan berbentuk roda dengan diameter meter 15 – 25 cm. Gantungan berbentuk roda itu dilengkapi jari-jari pada beberapa ruasnya. Pada setiap pangkal jari-jari yang berbentuk melingkar itu dipasang berbagai macam hadiah. Hadiah itu berupa mainan anak-anak, kebutuhan pokok rumah tangga, dan juga uang yang dibungkus dengan amplop dan plastik.   



 



 




Menurut Ruskan gelar Raja Batin yang juga Raja Jukkuan Lamban Bandung Kepaksian Pernong Pekon Balak Kecamatan Batu Brak mengatakan bahwa ada tiga jenis sekura. Ketiga jenis sekura tersebut yaitu Sekura Betik, Sekura Kamak dan sekura Jahal. “Ada tiga jenis sekura yang dikenal,  sekura betik, kamak dan jahal,” kata dia.
Sekura betik ada juga yang menyebutnya dengan sekura Helau dan Sekura Kecah. Ketiganya kata tersebut maknanya sama. Dalam bahasa Lampung betik berarti baik, helau berarti bagus sedangkan kecah berarti bersih. Sesuai dengan namanya jenis sekura ini umumnya enak dipandang. Pakaiaan dan atribut yang mereka kenakan bersih dan rapih. Umunya mereka menggunakan kain selendang dengan berbagai ukuran untuk menutupi wajah mereka.  Mereka juga memakai kain-kain yang menjuntai yang dililitkan di pinggang mereka. Sekura jenis ini cenderung rapih, menjaga penampilan dan menyenangkan saat dipandang. Diantara mereka ada yang menggunakan sarung, kain jarik jawa dan kain tradisional lampung.














Sekura kamak kebalikan dari sekura betik. Kamak dalam Bahasa Lampung berarti kotor. Sesuai dengan namanya, sekura jenis ini juga memiliki penampilan yang kotor dan aneh. Kostum yang mereka kenakan tak beraturan. Mereka biasanya membawa dedaunan untuk mengotori area yang dilewatinya. Selain itu, mereka juga mengotori bagian tubuh mereka dengan pewarna tubuh. Sekura jenis ini juga terkadang meminta-minta baik itu barang maupun uang kepada penjual yang menjajakan dagangannya di sekitar arena pesta sekura. Namun, hanya sebagian kecil saja.



 

 

 

Sekura yang ketiga yakni sekura Jahal. Dalam Bahasa Lampung Jahal berarti jelek. Sepintas sekura jenis ini hampir mirip dengan sekura kamak. Ciri-ciri jenis sekura ini  biasanya menggunakan topeng kayu dengan aneka jenis bentuk. Ada yang menyerupai orang yang sedang sakit gigi, sakit mata dan ada juga yang nakutin anak-anak. Sekura jenis ini juga ada yang menggunakan pakaian yang tak lazim seperti pakaian wanita hingga pakaian nenek-nenek. 

 

 
Namun dari segi penokohan ada sekura anak, sekura tuha, sekura ksatria, sekura cacat, sekura raksasa dan sekura binatang. Jenis sekura ini bisa dilihat dari berbagai topeng dan atribut yang mereka kenakan. Selain itu, para sekura ini juga biasanya membawa pedang sebagai pelengkap. Inilah salah satu warisan leluhur yang harus terus dijaga. Selain sebagai ajang memeriahkan perayaan Idul Fitri juga sebagai ajang silaturahmi dengan para warga. Tabik .

















0 komentar:

Posting Komentar

Pages