Kamis, 05 Desember 2013

Ngajakh khik Midokh di Pulau Pahawang


Pulau Pahawang


Ahad, 7 Oktober 2012  rekan-rekan Sahabat Pulau Lampung (SPL) sudah berada di sekitar Gedung PKM Universitas Lampung begitu juga Alumni Program Kapal Pemuda Nusantara. Angkot jurusan Rajabasa-Tanjung Karang milik Pak Kembar dan rekannya siap mengantar kami menuju Dermaga Ketapang. 

Dermaga Ketapang merupakan salah satu jalur menuju Pulau Pahawang. Para relawan Sahabat Pulau ini merupakan orang-orang yang mengabdikan dirinya untuk masyarakat pesisir. Pendidikan berkarakter lebih mereka tekankan kepada anak-anak didiknya di Pulau Pahawang.


Perahu-perahu bersandar di Dermaga Ketapang

Angkot Pak kembar segera meluncur saat semua peserta sudah berkumpul. Saya beserta Nur’aini yang merupakan Alumni KPN 2012 ikut rombongan Sahabat Pulau Lampung. Sementara Elsa dan Regen mengendarai motor. 

Tak lama untuk mencapai Pulau Pahawang dari kota Bandar Lampung. Kami melewati Tanjung Karang Pusat, yang merupakan pusat Kota Bandar Lampung. Sampai di Teluk Betung kita akan menjumpai kawasan pecinan. Deretan toko-toko yang sudah usang namun unik berpadu dengan bangunan-bangunan bernuansa etnis China. Itulah keunikan Teluk Betung. 

Jalanan yang mulus dan lumayan lebar membuat nyaman perjalanan. Tak berapa lama kami sampai di tanjakan Teluk Lampung. Pemandangan Teluk Lampung begitu memikat, dengan gugusan pulau-pulau kecil seperti surga yang jatuh dari langit. Birunya air laut berpadu dengan deretan pohon kelapa menambah keindahan alam Lampung.

Satu jam kemudian sampailah kami di Dermaga Ketapang. Kapal-kapal milik warga setempat bersandar di pinggir dermaga. Dari dermaga, kami menyebrang ke pulau Pahawang dengan ongkos Rp. 15.000 sekali jalan. Sementara untuk menyebrang ke Pulau Legundi yang lebih jauh dan menggunakan perahu yang lebih besar dikenakan tarif Rp. 30.000.


Perahu siap menuju Pulau Pahawang


 Perahu bertuliskan “Putra Mesar” ini mengantarkan kami menuju Pulau Pahawang. Perahu bermuatan 21 penumpang. Delapan orang di bagian belakang sementara di bagian depan ada tiga belas orang. Nahkoda kapal didampingi satu orang, katakanlah ABK duduk disamping nakhoda. Tugas ABK ini adalah membuang air yang masuk ke kapal. Hemmmm.... luar biasa, perahu ini.  


Suasana di Perjalanan menuju Pulau Pahawang

Sepanjang perjalanan, birunya laut menjadi pemandangan utama. Sementara itu, gunung-gunung yang meranggas berdiri tegak mengelilingi lautan nun jauh disana. Pertanda musim kemarau melanda. Pulau terdekat sepanjang perjalanan adalah Pulau Klagian besar dan Kalgian kecil. Pohon-pohon bakau (mangrove) yang rimbun terlihat mengelilingi Pulau Klagian Besar.


Pantai Pulau Klagian


 Belasan penduduk setempat juga terlihat memancing di sekitar Pulau Klagian. Cara memancing mereka sangatlah unik, yakni mereka membenamkan sebagian tubuh mereka ke laut hingga batas pinggang.

Nelayan mencari ikan dengan perahu





 
  







Hutan Mangrove di Pulau Klagian


Satu jam, sampai di Pulau Pahawang

Para Sahabat Pulau Lampung cukup menikmati pemandangan yang ada sembari bercengkrama. Saya dan Regen asyik berfoto. Memotret keindahan alam Lampung yang belum tergali secara optimal. Sekitar satu jam perjalanan dari dermaga Ketapang sampailah kami di dermaga Penggetahan desa Pulau Pahawang Kecamatan Punduh Pidada Kabupaten Pesawaran. 

Dermaga Penggetahan merupakan dermaga paling ramai di pulau Pahawang. Rumah-rumah nelayan berjajar rapih di kaki gunung Penggetahan. Masjid Penggetahan berdiri dengan kokohnya berdampingan dengan kantor kepala desa Pulau Pahawang. 



 Dermaga Penggetahan


Balai agung, demikian saya menyebut sebuah bangunan tempat rekan-rekan Sahabat Pulau Lampung mengajarkan nilai-nilai moral berkarakter kepada anak-anak Pulau Pahawang. Lapangan yang cukup luas terhampar di depan Balai Agung. Rumah-rumah disini cukuplah bagus. Hanya beberapa rumah yang menurut saya kurang layak huni.

 Perekonomian warga disini juga cukup bagus. Tapi, jangan tanya untuk masalah pendidikan. Tidak ada SD maupun SMP apalagi SMA di dusun Penggetahan ini. Anak-anak dusun Penggetahan harus keluar dusun untuk bersekolah. Dengan berjalan kaki atau diantar motor jika orang tua mereka memiliki motor. 

Sesampainya di dermaga Penggetahan anak-anak sudah menyambut kami. Ari dan Bang Acho sedang bermain games dengan mereka. Mereka senang kami datang. Kami segera berbaur bersama anak-anak Pulau Pahawang di Balai Agung. Para Sahabat Pulau Lampung bercengkrama dan begitu dekat dengan anak-anak pulau ini. Anak-anak ini seperti menemukan oase di tengah gurun yang kering. 


 
Evi (jilbab biru) dan Elsa sedang mengajar anak-anak Pulau Pahawang


Rekan-rekan Sahabat Pulau ini mengajari anak-anak Pulau Pahawang dengan hati. Sesuatu yang disampaikan dari hati biasanya lebih mengena dan terasa. ”nyesssssss”, begitulah kira-kira rasanya. Ada yang mengajari membaca, berhitung, games ataupun kegiatan-kegiatan yang mengasah otak.

Spot Cuku Bedil yang Exotic

Cuku Bedil adalah salah satu spot menarik untuk menyelam. Bahkan kita bisa melihat dengan jelas terumbu karang dari atas perahu yang kami tumpangi. Cuku Bedil terletak di sisi barat dusun Penggetahan. Melalui dusun Penggetahan ke Cuku Bedil bisa ditempuh dengan perahu atau berjalan kaki. Saya pun pernah mencoba kedua jalur tersebut. Jarak termpuhnya sekitar 20 menit dengan berjalan kaki. Pemandangan alama yang berpadu dengan birunya laut begitu memikat.

Villa berornamen ukiran Jawa berdiri dengan anggunnya di kawasan Cuku Bedil. Ada beberapa perahu yang bersandar, berbaris rapih seperti dikomandoi oleh seorang instruktur. Pasir Pantai Cuku Bedil sangatlah halus. Mirip seperti tepung. Menurutku pasir pantai ini berbeda dengan pantai-pantai yang pernah saya kunjungi sebelumnya. Jika Anda tidak percaya, sabaiknya Anda langsung ke Cuku Bedil untuk melihat pasir yang unik itu. Saking kagumnya, saya pun berulang-ulang memegang pasir yang terhampar luas.
 Saya begitu menikmati aktivitas memotret pemandangan di Kawasan Cuku Bedil. Bahkan, sampai-sampai kamera Elsa, rekan saya habis baterai. Rekan Sahabat Pulau Jakarta pun meminjamkan kameranya kepada saya. Kamera SLR, kamera yang sangat saya inginkan. Hehehehehe. 

Waktu Ashar tiba, saya beserta teman-teman lainnya segera sholat Ashar. Perahu yang akan mengantarkan kami kembali ke dermaga Ketapang sudah menunggu sedari tadi. Beberapa rekan dari Sahabat Pulau Lampung berangkat lebih dahulu. Saya memutuskan untuk mengikuti perahu kedua. Perahu dengan ukuran yang sama.

Tak berapa lama perahu pertama berlayar, perahu kedua yang kami tumpangi pun menyusul. Baru beberapa saat berlayar, perahu yang kami tumpangi menabrak batu karang. Hampir saja perahu ini oleng. Titik kemiringan sudah melampaui batas. Saya merasa takut sekali. Kekhawatiran tampak jelas dari raut wajah para penumpang. Tidak hanya sekali, untuk kedua kalinya perahu ini lagi-lagi menabrak batu karang. 

Pemandangan batu karang tampak begitu jelas bahkan bisa dilihat dengan mata telanjang. Kapal akhirnya mundur, beberapa penumpang yang naik di atap kapal turun. Kami hanya berharap semoga kapal ini tidak menabrak batu karang lagi. Alhamdulillah, akhirnya kapal kembali berlayar. Gelombang besar menemani perjalanan kami, hingga Dermaga Ketapang.


 
Balai Agung, tempat anak-anak belajar



0 komentar:

Posting Komentar

Pages