Jumat, 19 September 2014

Teluk Kiluan, Another Hidden Paradise of Lampung






Teluk Kiluan menjadi salah satu destinasi utama di Lampung saat ini. Kemolekan teluk berbentuk seperti ibu jari yang  menengadah ini membuat ribuan turis berdatangan untuk sekedar “singgah”. Menikmati panorama pantai dengan pasir putih yang begitu lembut dan tentunya mengintip atraksi lumba-lumba yang setiap pagi berseliweran di lautan lepas. 

Saya melakukan perjalanan bersama rekan kerja dari Lampung Post Jimmi, Reno, Martha juga ada Vina dari LPM Teknokra dan teman asal Jogjakarta Arno dan Ari Damayanthi. Perjalanan kami awali dari Rajabasa, Bandar Lampung menuju Pekon Kiluan Negeri Kecamatan Kelumbayan Kabupaten Tanggamus pada 9-10 September 2014. Waktu tempuhnya sekitar 3 jam perjalanan dengan medan yang lumayan rusak parah. Jalanan yang kami lalui cukup parah kerusakaannya. Mobil MPV Mitsubishi melaju dengan kecepatan sedang mengingat kondisi jalan yang berbatu dan berlubang. Saat kondisi hujan tentunya saat yang paling merepotkan, apalagi jarang dijumpai bengkel sepanjang perjalanan. Pepohonan hijau dan rumah panggung suku Lampung menjadi pemandangan yang kita jumpai selama perjalanan. Jarak tempuhnya dari Bandar Lampung sekitar 80 km. Setelah 3-4  jam perjalanan darat akhirnya mobil kami sampai di pintu masuk Teluk Kiluan tepatnya berada di dusun Sukamahi. 


Objek Wisata Teluk Kiluan merupakan objek wisata yang tengah digandrungi para wisatawan saat berkunjung ke Lampung. Lumba-lumba menjadi salah satu daya tarik tersendiri bagi para pelancong. Teluk Kiluan terletak di Pekon Kiluan Negeri Kecamatan Kelumbayan Kabupaten Tanggamus. Pekon Kiluan Negeri terdiri dari 7 dusun yaitu Sinar Agung (Kiluan Balak), Bandung Jaya, Sinar Maju, Sukamahi, Teluk Brak, Teluk Baru dan Raung. Berbagai suku bangsa tampak membaur di sini mulai dari Suku Jawa, Bugis, Lampung, Bali dan Sunda. Masing-masing dusun selain dihuni oleh mayoritas suku tertentu juga memiliki objek wisata tersendiri. Kepala desa saat ini yaitu Kadek Sukresne (0821 8036 3357). 

Ada beberapa pintu untuk sampai di Teluk Kiluan utamanya untuk jalur laut bisa ditempuh melalui Dermaga Canti, Kalianda hingga menuju ke Teluk Kiluan dengan waktu tempuh sekitar 5 jam perjalanan laut. Sementara itu, jika lewat Dermaga Ketapang, Pesawaran membutuhkan waktu sekitar 3 jam perjalanan bisa juga ditempuh lewat Dermaga TPI Lempasing, Teluk Betung, Bandar Lampung dengan waktu tempuh 4 jam. Namun, rute yang paling sering dilalui oleh para wisatawan melalui jalur darat dari Bandar Lampung langsung menuju Pekon Kiluan Negeri. 

Pantai Teluk Kiluan

Beberapa objek wisata yang bisa kita nikmati di Teluk Kiluan yakni Pantai Kiluan, Pulau Kelapa (Pulau Kiluan), Laguna, Dolphin tour maupun Batu Candi. Semua satu paket wisata itu bisa kita dapatkan biasanya ada bonus renang, snorkeling maupun diving, hehehehe. Topografinya yang berbukit dan lembah membuat para wisatawan yang gemar berpetualang dipastikan menikmati perjalanannya. 

Objek wisata yang kami kunjungi untuk untuk pertama kalinya yaitu Pantai Kiluan yang terletak di dusun Sinar Agung (Kiluan Balak) Pekon Kiluan Negeri. Hamparan lautan terpampang di depan mata. Pasir yang kasar tampak jelas terlihat di pantai yang memiliki panjang sekitar 10 km. Jika Anda ingin renang ini merupakan salah satu tempat yang nyaman untuk renang. Namun, jika Anda ingin menikmati sore dengan memancing itu bisa menjadi salah satu pilihan yang  Anda lakukan.  



Spot memancing di Teluk Kiluan menjadi bagian yang tak terpisahkan. Maka tak heran jika setiap tahun biasanya ada kompetisi memancing yang diikuti oleh para pemancing dari berbagai daerah di Indonesia. Saat sore hari biasanya banyak juga nelayan yang memancing menggunakan perahu kecil di kawasan ini. Blue marlin juga menjadi salah satu ikan yang banyak diburu oleh nelayan. Walaupun resikonya berat untuk mendapatkannya, namun hargany sesuai dengan perjuangan yang dilakukan. Ikan lainnya yang banyak diburu yakni tongkol, tuna, abu-abu (anakan tuna) dan lainnya. 

Selain itu Anda juga bisa menyusuri pantai dan ada kawasan yang biasa dikenal warga setempat batu candi. Dikenal demikian karena di bagian ujung Pantai Teluk Kiluan ada batuan yang bentuknya menyerupai candi-candi mini.

Pulau Kelapa = Pulau Kiluan



Setibanya di Pulau Kiluan saya langsung menuju penginapan sederhana yang dihuni oleh dua orang sepuh. Kebetulan ada Khairul Anwar ( 0813 7769 5200) yang juga anak dari kedua sepuh yang tinggal di pulau ini tengah berkunjung. Kisah menarik seputar sejarah pulau ini juga meluncur dari bibirnya. Menurutnya, sejarah panjang tentang nama Kiluan menjadi bagian yang tak bisa dilepaskan dengan keberadaan sosok bernama Raden Mas Karya  Anta Wijaya yang berasal dari Banten. Konon, pangeran sakti itu jika mati kelak meminta kepada warga setempat untuk dimakamkan di pulau mungil itu. Benar saja, saat pangeran sakti itu meninggal dunia warga setempat memakamkannya diatas bukit di Pulau Kiluan. Hingga kini kita bisa menjumpai makam Raden Mas Karya  Anta Wijaya diatas bukit. Kata Kiluan dalam bahasa Lampung berarti permintaan. Maka sejak saat itu, pulau cantik itu dikenal dengan nama Pulau Kiluan. Saya beserta teman seperjalanan juga sempat mengunjungi makam diatas bukit yang konon makam Raden Anta Wijaya. Kita membutuhkan waktu sekitar 15 menit untuk sampai diatas bukit.

 Pada tahun 80-an Pulau Kelapa atau yang lebih tenar dikenal dengan sebutan Pulau Kiluan dipenuhi dengan pohon kelapa. Naumn, kini, pohon kelapa itu tidak lagi mendominasi, namun jumlahnya masih tergolong lumayan banyak. Pulau seluas sekitar 5 hektar itu ditumbuhi aneka tanaman seperti kelapa, belimbing, tangkil, ketapang dan lainnya. Sejak tahun 2007 wisatawan mulai berdatangan ke kawasan teluk ini. Sejak saat itulah kawasan Teluk Kiluan mulai ramai dikunjungi dan menjadi incaran wisatawan.

Kini Pulau Kiluan dihuni oleh 2 orang sebagai penjaga pulau yakni Dul Hafidz dan Marhana. Mereka berdua telah menghuni pulau ini sejak tahun 1995. Kala itu, Gunawan, pengusaha asal Jakarta yang juga sekaligus pemilik  Pulau Kiluan mempercayakan kepada kedua sepuh itu untuk mengelolanya. Namun, kondisi Dul Hafidz yang sudah terlalu renta membuat kakek dengan banyak cucu itu menyerahkan kepada anaknya, Dirhamsyah yang tinggal di Gedung Tataan, Pesawaran. Sebelum dijual kepada Gunawan, Pulau ini dimiliki oleh Jhon Jambi salah seorang jenedral kala itu. Kemudian dijual seharga Rp 60juta kepada Gunawan kala itu.


Jika Anda menyebrang dari Teluk Kiluan maka Anda cukup membayar Rp 15ribu dengan waktu tempuh sekitar 15 menit. Memang tidak terlalu banyak fasilitas yang disediakan di sini. Namun ada penginapan yang bisa disewa per kamar Rp 200ribu/per malam. Fasilitas yang disediakan yakni kasur, bantal, kipas angin, kamar mandi serta listrik. Setidaknya ada 9 kamar yang disewakan untuk para pengunjung. Berbagai kegiatan laut seperti renang dan snorkeling bisa Anda lakukan di sini. Anda juga bisa menyewa alat snorkelling dengan biaya per paket Rp 25ribu terdiri dari kacamata dan alat napas. Sementara itu, biaya sewa  lives jacket Rp 15ribu dan Kaki katak Rp 10ribu. 



Pantai pasir Pulau Kiluan begitu lembut. Membuat siapa saja yang renang di sini betah berlama-lama sembari berjemur atau sekedar melihat-lihat pemandangan yang benar-benar memukau. Pasirnya benar-benar lembut, bersih dan putih. Paduan hijau toska dan biru pada perairan Pulau Kiluan semakin sedap di pandang mata. Jika Anda hobi snorkelling, maka sisi utara cocok untuk dijadikan spot menyelami keindahan bawah laut Pulau Kiluan. Cukup menyelam di kedalaman 1-5 meter Anda langsung disuguhi pemandangan yang memukau. Sementara pada bagian sisi barat pulau, batuan tampak memenuhi bibir pantai. 


Dolphin Tour


 



Salah satu tujuan utama wisatawan menuju ke Teluk Kiluan karena adanya lumba-lumba yang menghuni kawasan ini. Maka tak mengherankan jika wisatawan dari berbagai daerah biasanya datang ke sini untuk melihat komunitas lumba-lumba yang konon kawasan lumba-lumba terbesar di Asia ini. Ada beberapa rute yang bisa ditempuh melalui dusun Sinar agung atau Bandung jaya menuju samudera lepas untuk melihat lumba-lumba. Harga sewa per kapal Rp 300ribu. Biasanya kiata berangkat selepas salat subuh atau jika agak kesiangan sedikit jam 06.00, perahu akan mengantarkan kita untuk melihat lumba-lumba. 







Awalnya saya cukup takut menggunakan perahu kecil untuk lima orang termasuk dengan nahkodanya. Saya , Vina Teknokra, Ari Damayanti, Arno menjadi satu rombongan ditambah nahkoda. Kami sempat takut diawal, apalagi cuaca pagi itu kurang mendukung ditambah ombak yang begitu besar semakin menambah rasa cemas kami. Namun. Seiring dengan berjalannya waktu akhirnya saya bisa menemukan rasa nyaman itu. Ombak semakin membesar, kulihat perahu-perahu yang lainnya seperti timbul tenggelam diantara gelombang di lautan lepas. Lumba-lumba mulai tampak setelah 30 menit perahu kami mengarungi samudera. Lumba-lumba itu meloncat kesana kemari dengan riangnya. Saya berdecak kagum dibuatnya. Sayang saya tidak bisa mengabadikan melalui lenas kamera karena gelombang yang terlalu besar.

0 komentar:

Posting Komentar

Pages