Lelaki berambut pirang berperawakan tinggi besar
tampak mengejar-ngejar ombak Pantai Walur yang mengalun teratur. Papan seluncur
menjadi pinjakan kakinya untuk menahan laju air yang melebihi batas tinggi
tubuhnya. Ia timbul tenggelam diantara ombak yang menggulung kencang. Sesekali
ombak seolah menelan tubuhnya yang berbalut koas oblong dan celana khusus
selancar. Tubuhnya meliuk-liuk mengikuti alur gelombang. Semakin ombak membesar
turis-turis berambut pirang semakin banyak yang berdatangan di Pantai Walur
ini.
Lampung merupakan salah satu surga “baru” bagi para
peselancar. Sai Bumi Ruwa Jurai ini tak hanya memiliki Pantai Tanjung Setia
yang sudah tersohor namanya. Salah satu destinasi wisata untuk para pecinta
selancar yang mulai dikenal yakni Pantai Walur. Pantai ini terletak di Pekon
Walur Kecamatan Pesisir Utara Kabupaten Pesisir Barat. Pantai yang mulai
dikunjungi wisatawan sejak tahun 2000-an ini memiliki tinggi ombak hingga 5
meter. Tak pelak hal ini membuat para turis mancanegara pecinta olahraga
selancar berbondong-bondong datang ke sini.
Waktu tempuh yang diperlukan untuk sampai ke Pekon
Walur sekitar 6-7 jam perjalanan darat dari Bandar Lampung. Jalanan yang harus
dilalui relatif cukup baik. Walau di beberapa titik lokasi masih ditemui jalan
yang rusak bergelombang. Pemandangan hijau khas hutan tropis Sumatera
senantiasa menemani perjalanan kita. Memasuki daerah Kota Agung, pemandangan
khas pesisir mulai terasa. Begitu juga dengan barisan rumah-rumah panggung khas
masyarakat Lampung yang masih terlihat di beberapa pekon (desa) yang kita
lalui.
Sesampainya di Pantai Pekon Walur kita akan disambut
dengan barisan pohon kelapa yang tumbuh teratur di sepanjang bibir pantai.
Pohon kelapa ini tumbuh mengikuti kontur pantai yang telah ditembok pinggirnya
untuk menjaga daratan agar tidak abrasi. Pasir putih nan lembut terhampar luas
di sepanjang bibir pantai. Jadi, buat Anda yang tidak bisa selancar bisa
berrenang maupun menyusuri pantai. Pantai ini juga bagus untuk dijadikan spot
berfoto.
Pantai Walur memang menyuguhkan ombak yang tak
biasa. Puluhan turis mancanegara terus memadati kawasan pantai eksotis ini.
Mereka biasanya mulai selancar sejak pukul 07.00 pagi hingga pukul 10.00. saat
hari mulai sore, sekitar pukul 15.00 para turis mancanegara mulai berdatangan
lagi untuk berselancar. Para turis mancanegara yang berkunjung ke sini biasanya
adalah turis yang habis berselancar di Pantai Tanjung Setia. Walau belum
seramai Tanjung Setia, namun Walur kini mulai dikenal dan dipadati turis
mancanegara.
Masyarakat yang begitu ramah membuat para turis ini
betah berkunjung ke Pantai Walur. Tiket masuknya juga gratis. Para wisatawan
bebas untuk masuk dari mana saja untuk sampai di Pekon Walur yang aduhai ini.
Ada beberapa homestay yang kini mulai disewakan untuk turis mancanegara. Para
turis yang berkunjung ke sini, biasanya bisa bermalam mulai 2-7 hari. Beberapa
diantara mereka juga ada yang melanjutkan perjalanan menuju Pulau Mentawai
maupun Pulau Nias.
Mark, peselancar asal Australia ini mengaku sangat
mengagumi keindahan pantai walur yang begitu mempesona. Ia seperti menemukan
rumah baru, dimana ia sangat mengangumi ombak dan pantai. Ia awalnya tahu
mengenai Pantai Walur ini dari internet. Ia tertarik untuk berkunjung ke sini,
dan ini semua sesuai dengan apa yang ia harapkan. “Ombak di sini mirip dengan
pantai-pantai di Sumbawa,” kata dia.
Lain Mark, lain Zane
Tompshon Redmen, turis asal California yang sudah menetap di Krui sejak 18
tahun lalu ini begitu cinta dengan Pesisir Barat. Zane terlanjur jatuh cinta
dengan laut Pesisir Barat yang begitu mempesona. Ombak besar yang
menggulung-gulung seolah mengajaknya untuk tetap tinggal di sini. Alhasil, Zane
kini menjadi salah satu guide bagi para turis mancanegara yang singgah ke kawasan
Pesisir Barat. “Saya sangat betah tinggal di Walur, ombaknya besar dan bagus
untuk selancar,” kata dia.
0 komentar:
Posting Komentar